Yin et al merilis sebuah artikel penelitian yang menggambarkan manifestasi klinis dan faktor risiko potensial terjadinya hiperpigmentasi kulit akibat konsumsi hidroksiklorokuin (HCQ) pada pasien rematik autoimun di Tiongkok. Studi belah lintang ini mengungkapkan bahwa hiperpigmentasi adalah salah satu efek samping yang sering ditemukan setelah konsumsi HCQ.
Abstrak
Tujuan: Mendeskripsikan gambaran klinis pasien Tiongkok dengan HCQ-induced pigmentation dan menganalisis faktor risiko potensial yang terkait dengan HCQ-induced pigmentation.
Metode: Studi belah lintang dilakukan selama 7 bulan, meliputi pasien yang telah mengonsumsi HCQ selama >6 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mencakup karakteristik demografi dan geografis, informasi tentang HCQ dan penggunaan obat-obatan lain secara bersamaan, karakteristik paparan sinar matahari, dan karakteristik terkait hiperpigmentasi. Dilakukan analisis univariat dan multivariat untuk menghitung hubungan statistik antara HCQ-induced pigmentation dan beberapa variabel.
Hasil: Dari 316 pasien, 83 (26,3%) pasien mengalami hiperpigmentasi selama pengobatan HCQ. Hiperpigmentasi muncul setelah durasi rata-rata pengobatan HCQ 12 bulan (interquartile range 6,0 bulan-30,0 bulan) dengan median dosis kumulatif 108 gram HCQ (interquartile range 36-288 g). Lokasi hiperpigmentasi yang paling sering adalah pada wajah (60,2%), ekstremitas bawah (36,1%), dan tangan (20,5%).
Kesimpulan: HCQ-induced pigmentation seringkali terjadi, dengan insidensi sebesar 26,3%.
Kata Kunci: Pigmentasi, HCQ, paparan sinar matahari, prevalensi, manifestasi klinis, faktor risiko






Tinggalkan komentar