Chakravarty et al melakukan randomised Controlled Trial multisenter untuk meneliti efek penghentian MMF terhadap risiko reaktivasi penyakit pada pasien SLE quiescence yang menjalani terapi jangka panjang.  Penelitian ini menunjukkan reaktivasi penyakit signifikan terjadi pada 18% pasien di kelompok withdrawal dan 10% di kelompok maintenance.

Latar Belakang:

Mycophenolate mofetil (MMF) adalah imunosupresan yang sering digunakan untuk mengobati lupus eritematosus sistemik (SLE) dan nefritis lupus. Obat ini diketahui bersifat teratogenik dan toksik, juga berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi dan keganasan. Penghentian MMF dilakukan setelah penyakit mencapai keadaan tenang (quiescence), tetapi waktu yang tepat dan manfaat penghentiannya belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan menentukan efek penghentian MMF terhadap risiko reaktivasi penyakit pada pasien SLE quiescence yang menjalani terapi jangka panjang. 

Metode:

Randomised Controlled Trial multisenter ini dilakukan di 19 pusat di Amerika Serikat. Pasien yang memenuhi syarat berusia antara 18-70 tahun, memenuhi kriteria SLE American College of Rheumatology (ACR) 1997, dan memiliki skor SLEDAI klinis kurang dari 4 saat skrining. Terapi MMF harus stabil atau menurun selama ≥2 tahun untuk indikasi ginjal atau ≥1 tahun untuk indikasi non-ginjal. Peserta secara acak dialokasikan dalam rasio 1:1 ke dalam kelompok withdrawal, yang secara bertahap menghentikan MMF dalam 12 minggu, atau ke dalam kelompok maintenance, yang mempertahankan dosis baseline MMF (1–3 g per hari) selama 60 minggu. Alokasi secara acak ini memastikan bahwa proporsi kelompok meliputi lokasi studi, penyakit dengan keterlibatan renal versus non-renal, dan dosis baseline MMF (≥2 g per hari versus <2 g per hari) seimbang. End-point utama penelitian ini adalah reaktivasi penyakit yang signifikan secara klinis dalam 60 minggu, membutuhkan peningkatan dosis atau terapi imunosupresif baru.

Hasil:

Antara 6 November 2013 hingga 27 April 2018, dari 123 peserta yang diskrining, 102 peserta dialokasikan secara acak ke kelompok maintenance (n=50) atau withdrawal (n=52). Dari 100 peserta yang dianalisis (intention-to-treat), 84% adalah perempuan, 16% laki-laki, 40% berkulit putih, 41% berkulit hitam, dan 76% memiliki riwayat nefritis lupus. Usia rata-rata adalah 42 tahun. Pada minggu ke-60, reaktivasi penyakit signifikan terjadi pada 18% (9/51) peserta pada kelompok withdrawal dibandingkan 10% (5/49) pada kelompok maintenance. Risiko reaktivasi adalah sebesar 11% (95% CI 5-24) pada kelompok maintenance dan 18% (10-32) pada kelompok withdrawal. Peningkatan risiko reaktivasi dengan withdrawal diperkirakan sebesar 7% (one-sided upper 85% confidence limit 15%). Frekuensi efek samping pada kedua kelompok kurang lebih sama: 90% pada kelompok maintenance dan 88% pada kelompok withdrawal. Infeksi lebih sering terjadi pada kelompok maintenance (64%) dibandingkan kelompok withdrawal (46%). 

Tinggalkan komentar

Trending