
Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan luas dan kerusakan jaringan pada organ yang terkena. Penyakit ini sangat bergantung pada jenis kelamin, dengan prevalensi sembilan kali lebih tinggi pada wanita daripada pria. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa estrogen memainkan peran penting dalam pematangan, diferensiasi, dan aktivasi sel B yang berpotensi merangsang sistem imun. Sebaliknya, hormon androgen terutama testosteron memiliki peran protektif pada pasien SLE. Perbedaan konsentrasi hormon ini di antara kedua jenis kelamin dapat menjelaskan peningkatan insiden penyakit pada wanita.
Hingga saat ini, belum ada metode laboratorium yang dapat memprediksi perkembangan penyakit SLE, yang dapat menunda diagnosis definitif dan pengobatan tepat waktu selama beberapa tahun. Oleh karena itu, melakukan tes tertentu untuk memprediksi kekambuhan penyakit pada awal kunjungan pasien dapat mengarah pada pemberian jenis dan dosis obat yang tepat dan akhirnya mencegah kekambuhan penyakit di masa mendatang. Hubungan antara estradiol dan testosteron serta perkembangan SLE belum diselidiki melalui perubahan reseptornya pada sel imun.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh kadar hormon estradiol dan testosteron serta reseptornya dalam memprediksi tingkat keparahan penyakit SLE aktif pada pasien dengan status tidak aktif/ringan di awal penyakit.
Metode
Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif yang melibatkan 59 pasien perempuan dengan SLE tidak aktif di Golestan, Iran utara. Data kadar hormon estradiol (E2) dan testosteron (T) serta reseptornya yaitu reseptor estrogen (ER) dan reseptor androgen (AR) diukur pada awal penelitian. Setelah pemantauan rutin kekambuhan penyakit selama satu tahun (2021 hingga 2022), pasien dibagi menjadi kelompok SLE aktif dan tidak aktif berdasarkan kriteria klinis dengan indeks SLEDAI. Uji T dan uji Mann-Whitney U digunakan untuk menganalisis perbedaan variabel serta korelasinya dianalisis menggunakan uji Pearson dan Spearman.
Hasil
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan pada rerata rasio E2+ER/T+AR antara kelompok SLE aktif dan tidak aktif (P<0,001) serta memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat keparahan penyakit (r=0,546, P<0,001). Sehingga, kadar estradiol yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan skor keparahan penyakit, sementara kadar testosteron yang rendah juga dikaitkan dengan keparahan lupus yang lebih tinggi. Korelasi ini lebih nyata pada pasien wanita.
Kesimpulan
Penelitian ini mengungkapkan bahwa efek kumulatif dari hormon steroid yang berupa estrogen dan testosteron serta reseptornya dapat menjadi indikator dalam memprediksi tingkat keparahan SLE. Informasi ini juga dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai patofisiologi lupus pada wanita, yang akan sangat berguna dalam merancang pengobatan yang efektif. Penelitian serupa yang selanjutnya disarankan menggunakan ukuran sampel yang lebih besar dan variabel terkait yang lebih banyak untuk meningkatkan kekuatan dan akurasi nilai prognostik hormon steroid dalam memprediksi tingkat keparahan SLE.
Referensi
- Abdolahpour S, Abdolahi N, Aghaei M, Azadeh H, Farazmandfar T. The Effect of Estradiol and Testosterone Levels Alone or in Combination with Their Receptors in Predicting the Severity of Systemic Lupus Erythematosus: A Cohort Study. Iran J Med Sci. 2025 Feb;50(2):69–76. doi:10.30476/ijms.2024.101457.3414.
- Lasrado N, Jia T, Massilamany C, Franco R, Illes Z, Reddy J. Mechanisms of sex hormones in autoimmunity: focus on EAE. Biol Sex Differ. 2020;11:50.
- Wu D, Ye L, Zhang X, Yin M, Guo Y, Zhou J. Characteristics of steroid hormones in systemic lupus erythematosus revealed by GC/MS-based metabolic profiling. Front Endocrinol (Lausanne). 2023;14:1164679.
- Singh RP, Bischoff DS. Sex hormones and gender influence the expression of markers of regulatory T cells in SLE patients. Front Immunol. 2021;12:619268.
- Magallares B, Lobo-Prat D, Castellvi I, Moya P, Gich I, Martinez-Martinez L, et al. Assessment of EULAR/ACR-2019, SLICC-2012 and ACR-1997 classification criteria in SLE with longstanding disease. J Clin Med. 2021;10.
- Wasmuth EV, Hoover EA, Antar A, Klinge S, Chen Y, Sawyers CL. Modulation of androgen receptor DNA binding activity through direct interaction with the ETS transcription factor ERG. Proc Natl Acad Sci U S A. 2020;117:8584–92.





Tinggalkan komentar