Mengurai Hasil Penelitian Terbaru dari Autoimmunity Reviews

Bagi penderita penyakit SLE, vaksinasi sering menjadi dilema. Di satu sisi, vaksin berfungsi melindungi dari infeksi yang bisa memperburuk kondisi. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa vaksin justru dapat memicu reaksi berlebihan dari sistem imun.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Autoimmunity Reviews mencoba menjawab keresahan ini dengan meneliti pola efek samping vaksin pada penderita penyakit SLE.

Apa Itu Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)?

Penyakit SLE terjadi ketika sistem imun yang seharusnya melawan kuman justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Pasien dengan kondisi ini biasanya lebih rentan terhadap infeksi, sehingga vaksinasi menjadi bagian penting dari pencegahan.

Apakah Pasien SLE Boleh Vaksin?

Pasien dengan SLE sangat dianjurkan untuk vaksin. Hal ini dikarenakan pasien dengan SLE memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum, terutama pasien SLE yang menjalani terapi imunosupresan seperti Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDs) dan glukokortikoid. Kerentanan terhadap infeksi pada pasien reumatik autoimun dipengaruhi oleh disfungsi sistem imun, tingkat keparahan penyakit, komorbiditas, serta pengobatan dengan imunosupresan.

Apa saja vaksin yang dianjurkan untuk pasien SLE?

  1. Influenza
  2. Pneumokokus
  3. Hepatitis B
  4. Hepatitis A
  5. HPV
  6. Tetanus/difteri
  7. Poliomyelitis
  8. Herpes Zoster

Temuan Penting: Dua Gelombang Terjadinya Efek Samping

Penelitian ini menemukan pola yang menarik tentang kapan efek samping vaksin paling sering terjadi:

  1. Minggu Pertama Pasca Vaksinasi
    • Periode dengan jumlah efek samping tertinggi.
    • Keluhan bisa berupa reaksi lokal (bengkak, nyeri di lokasi suntikan), gejala sistemik (demam, nyeri sendi, kelelahan), hingga flare atau kekambuhan gejala autoimun.
  2. Setelah Minggu ke-6
    • Angka kejadian efek samping kembali meningkat.
    • Efek samping di periode ini lebih jarang berupa reaksi lokal, melainkan lebih banyak terkait sistem imun, misalnya perburukan gejala penyakit autoimun atau gejala inflamasi yang muncul belakangan.

Mengapa Efek Samping Muncul pada Waktu Tersebut?

Para peneliti menduga ada mekanisme imunologi berbeda yang bekerja pada dua periode ini:

  • Minggu pertama → respons imun tubuh sedang “beradaptasi” dengan antigen dari vaksin. Sistem imun yang hiperaktif pada pasien autoimun bisa merespons berlebihan, sehingga muncul gejala lebih banyak.
  • Setelah 6 minggu → kemungkinan terkait aktivasi mekanisme autoimun sekunder, seperti molecular mimicry (kesalahan sistem imun dalam membedakan antigen vaksin dan jaringan tubuh sendiri), atau proses inflamasi yang tertunda.

Apa Dampaknya untuk Pasien SLE?

Hasil penelitian ini memberikan gambaran kapan pasien autoimun sebaiknya lebih waspada setelah vaksinasi.

  • Pemantauan ketat pada minggu pertama → pasien dianjurkan memperhatikan gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi, atau flare penyakit.
  • Kontrol medis jangka menengah (6–8 minggu) → penting untuk memastikan tidak ada gejala baru atau perburukan kondisi.
  • Konsultasi sebelum vaksinasi → dokter perlu menilai kondisi pasien, apakah sedang dalam fase stabil atau mengalami flare. Vaksin biasanya lebih aman diberikan saat penyakit dalam kondisi terkontrol.
  • Bukan berarti vaksin berbahaya → secara umum, manfaat vaksin tetap lebih besar dibandingkan risiko, terutama karena infeksi berat dapat memperparah autoimunitas dan bahkan mengancam nyawa.

Pesan Penting dari Penelitian Ini

  1. Vaksin aman secara umum, bahkan sangat dianjurkan untuk penderita autoimun.
  2. Efek samping lebih sering muncul di minggu pertama dan setelah 6 minggu.
  3. Pasien perlu mendapatkan edukasi tentang waktu risiko tertinggi agar tidak panik, tapi tetap waspada.
  4. Dokter bisa menggunakan temuan ini untuk membuat strategi pemantauan yang lebih efektif.

Harapan ke Depan

Dengan pemahaman lebih baik tentang pola waktu efek samping vaksin, diharapkan:

  • Pasien SLE tidak lagi ragu untuk divaksinasi.
  • Tenaga medis dapat melakukan monitoring yang lebih tepat sasaran.

Kesimpulan

Vaksinasi tetap merupakan langkah pencegahan yang vital, bahkan bagi penderita penyakit SLE. Namun, ada baiknya pasien dan dokter memahami pola “dua gelombang risiko” efek samping ini agar bisa lebih siap.

Kuncinya bukan menjauhi vaksin, tetapi melakukan vaksinasi dengan pengawasan dan pemantauan medis yang tepat.

Referensi

  1. Sodagari, S., & Sodagari, N. (2025). Exploring vaccine safety and adverse events in major autoimmune diseases. Autoimmunity reviews, 24(10), 103857. Advance online publication. https://doi.org/10.1016/j.autrev.2025.103857
  2. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2025). Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik

Tinggalkan komentar

Trending