Nyeri sendi seringkali dianggap sebagai hal yang lumrah akibat kelelahan, aktivitas yang berlebihan, pertambahan usia, atau kekurangan vitamin. Namun, tidak semua nyeri sendi bisa hilang sendiri dengan istirahat, pereda nyeri, atau suplemen vitamin. Bisa jadi nyeri sendi tersebut muncul sebagai gejala autoimun. Oleh karena itu, mari kenali tanda nyeri sendi karena autoimun.

Apa perbedaan nyeri sendi biasa dan nyeri sendi karena autoimun?

Nyeri sendi karena autoimun berbeda dengan nyeri sendi biasa. Nyeri sendi biasa umumnya muncul setelah aktivitas berat atau cedera, kemudian membaik dengan istirahat dan pereda nyeri sederhana. Namun, nyeri sendi karena autoimun memiliki pola nyeri tertentu, antara lain:

  • Nyeri disertai kekakuan di pagi hari terutama saat bangun tidur

Durasi nyeri dan kaku sendi di pagi hari berlangsung lama, yakni lebih dari 30-60 menit. Keluhan yang muncul dapat berupa sulit bangkit dari tempat duduk, tangan sulit menggenggam, dan sendi terasa seperti terkunci.

  • Nyeri sendi muncul secara simetris

Nyeri sendi pada autoimun bersifat simetris dan melibatkan banyak sendi. Lokasi nyeri sendi dapat muncul di sendi-sendi kecil seperti jari tangan dan jari kaki maupun sendi besar seperti lutut, bahu, dan tulang belakang.

  • Ada tanda inflamasi pada sendi

Pada kondisi autoimun, nyeri sendi seringkali muncul dengan tanda inflamasi, yaitu bengkak, kemerahan, terasa hangat, dan nyeri tekan pada sendi.

  • Nyeri sendi membaik dengan aktivitas

Nyeri sendi karena autoimun umumnya memburuk saat istirahat dan membaik saat beraktivitas. Oleh karena itu, nyeri sendi seringkali muncul di pagi hari saat bangun tidur.

  • Nyeri sendi disertai gejala sistemik lain

Nyeri sendi karena autoimun jarang muncul sendirian. Umumnya nyeri sendi disertai keluhan lain seperti mudah lelah, demam berulang, rambut rontok, dan ruam kulit.

Penyakit autoimun apa saja yang ditandai dengan nyeri sendi?

Berikut beberapa penyakit autoimun yang dapat disertai gejala nyeri sendi.

  • Rheumatoid arthritis (RA)

RA merupakan penyakit autoimun yang menyerang persendian. RA ditandai dengan bengkak dan nyeri sendi, kekakuan pada pagi hari, keterbatasan gerak sendi, hingga muncul deformitas sendi seperti swan neck, boutonniere, dan deviasi ulnar.

  • Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

SLE atau lupus merupakan penyakit autoimun sistemik yang dapat menyerang banyak organ, termasuk sendi, kulit, jantung, paru-paru, dan sel darah. Nyeri sendi dapat ditemui sebagai tanda awal SLE, bersamaan dengan gejala ruam, fotosensitivitas, dan gejala lainnya.

  • Spondiloartritis

Spondiloartritis merupakan penyakit reumatik autoimun yang menyebabkan inflamasi kronis, terutama pada tulang belakang dan sendi panggul. Gejala spondiloartritis meliputi nyeri punggung, artritis (radang sendi), dan enteritis (radang pada area perlekatan ligamen atau tendon ke tulang).

  • Psoriatik artritis

Psoriatik artritis merupakan penyakit autoimun berupa radang sendi kronis yang berhubungan dengan penyakit kulit psoriasis.

Mengapa nyeri sendi tidak boleh diabaikan?

Nyeri sendi pada autoimun terjadi karena adanya inflamasi (peradangan). Jika tidak ditangani dengan baik, peradangan pada sendi dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen. Sendi bisa mengalami kekakuan, deformitas, hingga keterbatasan gerak. Hal ini tentu berdampak pada aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup. Perlu penegakan diagnosis dan tatalaksana yang tepat untuk membantu mengurangi nyeri, mengendalikan peradangan, mencegah kerusakan sendi, dan mempertahankan fungsi tubuh.

Kapan harus ke dokter?

Sebaiknya segera konsultasi ke dokter apabila:

  • Nyeri sendi dirasakan lebih dari 6 minggu
  • Nyeri pada banyak sendi dan simetris
  • Kaku pagi hari lebih dari 30 menit
  • Bengkak, kemerahan, dan nyeri pada sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jangan abaikan nyeri sendi yang dialami. Kenali tanda nyeri sendi karena autoimun lebih dini untuk mencegah komplikasi dan kerusakan sendi permanen. Jangan ragu untuk konsultasi ke reumatologis untuk memperoleh tatalaksana yang tepat.

Referensi

  1. IRA. Pamduan Praktik Klinis Reumatologi. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2025.
  2. Jahid M, Khan KU, Rehan-Ul-Haq, Ahmed RS. Overview of Rheumatoid Arthritis and Scientific Understanding of the Disease. Mediterr J Rheumatol. 2023;34(3):284-291. doi:10.31138/mjr.20230801.oo
  3. Krijbolder DI, Wouters F, van Mulligen E, van der Helm-van Mil AHM. Morning stiffness precedes the development of rheumatoid arthritis and associates with systemic and subclinical joint inflammation in arthralgia patients. Rheumatology (Oxford). 2022;61(5):2113-2118. doi:10.1093/rheumatology/keab651

Tinggalkan komentar

Trending