Menjelang bulan Ramadan atau saat tren pola hidup sehat seperti puasa intermiten (intermittent fasting) kembali populer, pertanyaan mengenai keamanan puasa bagi penyandang penyakit autoimun sering kali diajukan. “Dok, apakah boleh saya berpuasa?” atau “Dok, kalau saya puasa apakah aman untuk penyakit saya?”, dan lain sebagainya dengan pertanyaan serupa. Kekhawatiran ini wajar karena puasa mengubah pola makan, penggunaan energi, dan kondisi sistem imun itu. Lantas, apakah pasien autoimun boleh berpuasa?
Jawabannya tentu saja “Boleh”, tapi tetap memperhatikan faktor tertentu. Puasa bisa aman bagi sebagian pasien autoimun, tetapi tidak berlaku untuk semua orang. Keamanan puasa sangat bergantung pada kondisi individual, meliputi jenis penyakit autoimun yang diderita, apakah penyakit sedang dalam masa aktif (flare) atau justru dalam kondisi remisi, jenis obat yang dikonsumsi, serta adanya pengawasan dari tenaga medis.
Bagaimanakah puasa itu bekerja?
Mekanisme puasa memberikan dampak menarik pada sistem imun. Puasa intermiten, termasuk puasa Ramadan, diketahui dapat memengaruhi berbagai mekanisme tubuh seperti menekan sitokin inflamasi, memodifikasi mikrobiota usus, dan mengaktifkan proses autofagi yaitu mekanisme “pembersihan” sel-sel tubuh dan dapat berkontribusi pada perbaikan gejala autoimun. Sebuah studi prospektif yang dilakukan oleh Ben Nessib dkk. (2022) pada 35 pasien Reumatoid Artritis (RA) menunjukkan bahwa puasa intermiten selama Ramadan dapat menurunkan aktivitas penyakit, dan efek positif ini dapat bertahan hingga tiga bulan setelahnya. Penelitian ini menyarankan bahwa interval tiga bulan mungkin merupakan waktu yang direkomendasikan untuk mempertahankan efek positif puasa pada aktivitas RA.
Namun, respons terhadap puasa ternyata tidak seragam untuk semua jenis autoimun. Sebuah studi tahun 2025 oleh Arafa dkk. yang meneliti dampak puasa intermiten pada pasien Lupus (SLE) di Mesir memberikan perspektif berbeda. Penelitian tersebut melaporkan bahwa puasa intermiten tidak memperburuk aktivitas penyakit pada pasien SLE, meskipun para peneliti mencatat adanya perubahan pada biomarker tertentu di dalam tubuh. Hal ini menegaskan bahwa meskipun secara klinis pasien mungkin merasa baik, dampak biologis puasa tetaplah kompleks dan perlu dicermati, terutama pada penyakit autoimun sistemik seperti Lupus.
Lantas, bagaimana panduan praktisnya? Puasa dinilai lebih aman jika penyakit dalam kondisi stabil (remisi atau low disease activity), jadwal minum obat dapat disesuaikan (misalnya menjadi sekali saat sahur dan berbuka), serta tidak ada risiko dehidrasi atau gangguan metabolik lainnya. Oleh karena itu, pasien autoimun yang kondisinya sedang kambuh (flare), obat-obatan harus dikonsumsi lebih dari dua kali sehari, atau terdapat komplikasi penyakit lain pada ginjal, jantung, dan metabolik, maka puasa sebaiknya tidak dilakukan. Pada akhirnya, keputusan untuk berpuasa harus didasarkan pada kondisi klinis individual dan dilakukan setelah berkonsultasi dengan Reumatolog.
Referensi
- Ben Nessib D, Maatallah K, Ferjani H, Triki W, Kaffel D, Hamdi W. Sustainable positive effects of Ramadan intermittent fasting in rheumatoid arthritis. Clinical Rheumatology. 2022 Feb;41(2):399-403.
- Arafa SG, Zaiema SE, Ahmed RA, Moussa SA, Hussein SH, Mohammed MM. The impact of intermittent fasting on systemic lupus erythematosus disease activity in a cohort of SLE Egyptian patients. The Egyptian Journal of Internal Medicine. 2025 Sep 1;37(1):124.
- Longo VD, Mattson MP. Fasting: molecular mechanisms and clinical applications. Cell metabolism. 2014 Feb 4;19(2):181-92.
- Adawi M, Watad A, Brown S, Aazza K, Aazza H, Zouhir M, Sharif K, Ghanayem K, Farah R, Mahagna H, Fiordoro S. Ramadan fasting exerts immunomodulatory effects: Insights from a systematic review. Frontiers in immunology. 2017 Nov 27;8:1144.





Tinggalkan komentar