Seiring dengan meningkatnya tren penggunaan pengobatan komplementer dan herbal di masyarakat, pasien autoimun dengan manifestasi kulit seperti Cutaneous Lupus Erythematosus (CLE) atau Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) dengan manifestasi kulit perlu mendapatkan perhatian khusus. Kondisi negara Indonesia dari segi geografis dan budaya mendorong lonjakan tinggi dalam penjualan dan ketersediaan suplemen herbal di pasaran. Sebuah studi Systematic Review terbaru yang dipublikasikan di Lupus Science & Medicine pada tahun 2025 mengungkapkan temuan penting mengenai risiko konsumsi herbal tertentu pada pasien autoimun kulit. Studi yang menelaah lebih dari 11.800 artikel dan menganalisis 469 studi yang memenuhi kriteria inklusi ini berhasil mengidentifikasi 227 jenis suplemen herbal yang memiliki efek imunostimulator; yaitu kemampuan untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sehingga berpotensi memicu atau memperburuk kondisi autoimun pada kulit. Temuan ini menjadi peringatan penting di tengah maraknya produk herbal yang dipasarkan dengan klaim “meningkatkan daya tahan tubuh”, karena pada pasien autoimun, peningkatan aktivitas imun justru dapat memicu serangan balik terhadap jaringan tubuh sendiri (flare).

Berdasarkan 227 herbal yang teridentifikasi, terdapat 15 herbal yang memiliki efek imunostimulator berdasarkan uji coba pada manusia, hewan, dan studi in vitro. Kelima belas herbal tersebut meliputi alfalfa, ashwagandha, astragalus, alga chlorella, bunga echinacea, bawang putih, ginseng, ekstrak teh hijau, mengkudu (Indian mulberry), akar manis (liquorice), benalu (mistletoe), jamur reishi, skullcap, spirulina, dan tinospora. Herbal-herbal ini banyak ditemukan dalam produk suplemen kesehatan yang beredar bebas di pasaran, paling sering dalam bentuk kapsul/tablet, bubuk, teh, ekstrak cair, atau pun campuran herbal tradisional. Data menunjukkan bahwa dari total herbal yang diidentifikasi, 79 di antaranya memiliki bukti dari studi pada manusia, 145 didukung oleh studi pada hewan coba, dan 148 oleh studi in vitro. Studi-studi ini menunjukkan bahwa efek imunostimulator telah teramati dalam berbagai tingkat penelitian.

Mekanisme imunostimulator yang ditemukan pada herbal-herbal tersebut cukup beragam namun semuanya mengarah pada peningkatan respons peradangan. Studi ini mengungkap bahwa herbal-herbal tersebut bekerja melalui aktivasi toll-like receptor (TLR), jalur pensinyalan NF-kB/MAPK, serta peningkatan produksi sitokin pro-inflamasi seperti IL-1β, IL-6, TNF-α, IL-12, dan IFN-γ. Sebuah studi sebelumnya oleh Bax dkk. (2021) juga telah menunjukkan bahwa Spirulina platensis, Aphanizomenon flos-aqua, Chlorella, Echinacea, dan Alfalfa mengaktifkan sel-sel imun melalui berbagai sitokin dan kemokin. Laporan kasus bahkan menunjukkan adanya asosiasi antara konsumsi herbal imunostimulator dengan onset klinis atau flare penyakit yang ditandai dengan respons imun yang berlebihan seperti lupus. Pada pasien lupus dengan manifestasi kulit, aktivasi jalur-jalur ini sangat bermasalah karena dapat memicu respons autoimun yang justru menyerang jaringan kulit. Sehingga konsumsi herbal tertentu berpotensi memicu flare atau kekambuhan lesi kulit.

Implikasi klinis dari temuan ini sangat signifikan bagi praktik kedokteran, khususnya dalam tata laksana pasien lupus dengan manifestasi kulit. Studi Ravishankar dkk. (2022) menemukan bahwa 14,6% pasien dengan dermatomiositis melaporkan penggunaan Spirulina, dan 47% dari pengguna tersebut melaporkan flare penyakit yang terkait dengan asupan Spirulina. Para peneliti menekankan bahwa ketika pasien datang dengan onset baru atau flare penyakit autoimun kulit, anamnesis menyeluruh mengenai penggunaan suplemen herbal harus menjadi bagian dari evaluasi klinis. Edukasi yang komprehensif diperlukan agar pasien tidak mudah tergiur dengan klaim “meningkatkan imunitas” yang justru kontradiksi dengan kondisi autoimun.

Referensi

  1. Weiner JD, Hill A, Shen C, On A, Werth VP. Identifying immunostimulatory herbal supplements that may flare autoimmune skin diseases: a systematic scoping review. Lupus Science & Medicine. 2025 Dec 31;12(2).
  2. Bax CE, Chakka S, Concha JS, Zeidi M, Werth VP. The effects of immunostimulatory herbal supplements on autoimmune skin diseases. Journal of the American Academy of Dermatology. 2021 Apr 1;84(4):1051-8.
  3. Ravishankar A, Bax CE, Grinnell M, Yan D, Concha JS, Pappas-Taffer L, Shields BE, Dany M, Clark AK, Feng R, Okawa J. Frequency of immunostimulatory herbal supplement use among patients with autoimmune skin disease. Journal of the American Academy of Dermatology. 2022 Nov 1;87(5):1093-5.
  4. Lupus Foundation of America. Herbal supplements to potential skin flare activity in people with autoimmune skin diseases. Lupus Foundation; 2026 Jan

Tinggalkan komentar

Trending