Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Penyakit ini paling sering menyerang orang yang relatif muda. Meski pengobatan lupus terus berkembang, angka harapan hidup penderitanya tidak banyak membaik sejak pertengahan 1990-an. Penyebab utamanya adalah infeksi. Dibandingkan penyakit reumatik lain, lupus memiliki angka kematian yang paling tinggi dibanding populasi umum, dan infeksi menjadi penyebab kematian terbanyak.

Ada beberapa alasan mengapa penyintas lupus lebih mudah terinfeksi. Pertama, sistem kekebalan tubuh mereka tidak bekerja dengan normal, terutama saat penyakit sedang aktif. Kedua, obat-obatan yang diperlukan untuk meredakan lupus, seperti kortikosteroid dan imunosupresan, juga menurunkan daya tahan tubuh penggunanya. Ketiga, penyakit penyerta seperti penyakit ginjal kronis dan diabetes menambah risiko infeksi. Sebuah analisis gabungan menemukan risiko infeksi berat pada penderita lupus sekitar tiga kali lipat dibanding populasi umum. Risiko tuberkulosis sekitar enam kali lipat, pneumonia sekitar dua setengah kali lipat, dan herpes zoster (cacar api) juga sekitar dua setengah kali lipat.

Pengobatan intensif pada penyandang lupus tidak bisa dihindari. Pemberian antibiotik atau antijamur jangka panjang juga memiliki keterbatasan, sehingga para peneliti menegaskan bahwa vaksinasi adalah salah satu strategi terpenting untuk mencegah infeksi pada penderita lupus. Sayangnya, banyak penderita ragu untuk divaksin. Kekhawatiran yang paling sering muncul adalah takut vaksin justru membuat lupus kambuh. Ada juga hambatan lain, seperti kurangnya rekomendasi dari dokter, biaya vaksin yang mahal, dan anggapan bahwa vaksin tidak aman. Di Tiongkok, misalnya, hanya sekitar 8% penderita lupus yang mendapat vaksin influenza dan sekitar 1,7% yang mendapat vaksin pneumokokus.

Lalu, bagaimana bukti ilmiahnya? Sebagian besar vaksin dinilai aman dan bermanfaat bagi penderita lupus. Pada vaksin COVID-19, sekitar 5,5% penderita lupus mengalami kekambuhan dalam 14-90 hari setelah vaksinasi. Sebagian besar kekambuhan ini ringan hingga sedang, dan yang mengancam nyawa sangat jarang (0-2%). Di sisi lain, infeksi COVID-19 sendiri juga dapat memicu kekambuhan. Dalam sebuah studi terhadap 273 penderita lupus, kekambuhan dalam 90 hari terjadi pada 17,6% penderita yang terinfeksi COVID-19, dibanding 5,5% pada penderita yang tidak terinfeksi. Artinya, mencegah infeksi lewat vaksinasi lebih besar manfaatnya daripada risiko kekambuhan akibat vaksin. 

Vaksin influenza juga dianjurkan. Respons antibodi penderita lupus memang lebih rendah dibanding orang sehat, tetapi penderita yang divaksin tetap lebih jarang terkena influenza dibanding yang tidak divaksin, dan kekambuhan lupus yang terjadi umumnya ringan. Vaksin pneumokokus, yang melindungi dari radang paru akibat bakteri Streptococcus pneumoniae, tidak menimbulkan efek samping serius pada penderita lupus dalam kajian yang dirangkum para peneliti. Sekitar sepertiga penderita hanya mengalami keluhan ringan. Vaksin herpes zoster jenis rekombinan (Shingrix) memicu respons kekebalan yang baik pada penderita lupus tanpa meningkatkan aktivitas penyakit selama satu tahun pemantauan. Vaksin HPV, yang mencegah kanker leher rahim, juga tidak terbukti meningkatkan kekambuhan. Ini penting karena perempuan dengan lupus lebih rentan terinfeksi HPV dan memiliki risiko kanker leher rahim yang lebih tinggi. Untuk RSV (virus penyebab infeksi saluran napas), belum ada uji coba besar pada penderita lupus, tetapi peneliti menyarankan penderita lupus untuk mempertimbangkan vaksin ini.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya dihindari pada penderita yang sedang menjalani terapi imunosupresif, dan pilihan vaksin tidak hidup (inaktif atau rekombinan) lebih diutamakan. Waktu terbaik untuk vaksinasi adalah saat lupus tenang atau aktivitas penyakitnya reda. Pada penderita yang memakai obat penekan imun yang kuat, seperti rituximab, respons terhadap vaksin biasanya lebih lemah. Pada kelompok ini, dokter dapat mengatur waktu vaksinasi agar sejalan dengan jadwal obat, memberikan dosis penguat, atau mempertimbangkan perlindungan tambahan. Pedoman organisasi reumatologi Amerika (ACR) dan Eropa (EULAR) juga memberikan panduan penjadwalan, termasuk kapan sebagian obat boleh ditunda sementara di sekitar waktu vaksinasi, sesuai kondisi penyakit.

Pesan utama para peneliti jelas: manfaat vaksinasi pada lupus lebih besar daripada risikonya. Meski begitu, keputusan sebaiknya diambil bersama dokter yang menangani, dengan mempertimbangkan kondisi penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, dan kebutuhan masing-masing penderita. Penderita lupus tidak perlu takut, tetapi sebaiknya berdiskusi terlebih dahulu dengan dokternya sebelum menjalani vaksinasi.

REFERENSI

Mok TC, Mok CC. Vaccination in systemic lupus erythematosus. Human Vaccines & Immunotherapeutics. 2026;22(1):2663637. doi:10.1080/21645515.2026.2663637

Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Pedoman diagnosis dan pengelolaan lupus eritematosus sistemik. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia; 2025.

Tinggalkan komentar

Trending