Penggunaan glukokortikoid (steroid) jangka pendek pada pasien yang baru terdiagnosis Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dapat memicu reaktivasi Tuberkulosis (TB) Laten menjadi TB Aktif dalam waktu yang sangat singkat.
Tuberkuloasis (TB) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tb) yang ditularkan melalui droplet aerosol dari penderita TB aktif saat batuk, bersin, atau berbicara. Bakteri yang terhirup akan masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai alveolus, kemudian difagositosis oleh makrofag alveolar sebagai bagian dari respons imun bawaan. Apabila bakteri berhasil menghindari penghancuran oleh makrofag, M. tb akan berkembang biak di dalam sel, kemudian menyebar dan menginfeksi makrofag lainnya. Selanjutnya, limfosit dan sel imun lain direkrut ke lokasi infeksi untuk membatasi penyebaran bakteri melalui pembentukan granuloma.
Pada individu dengan sistem imun yang baik, infeksi dapat terkendali sehingga bakteri tereliminasi atau bertahan dalam kondisi dorman di dalam granuloma. Kondisi ini disebut infeksi TB laten (LTBI), yaitu keadaan ketika individu tidak menunjukkan gejala klinis dan umumnya tidak menularkan bakteri. Granuloma merupakan struktur yang tersusun atas makrofag dan berbagai sel imun yang berfungsi membatasi penyebaran M. tb. Namun, bakteri dapat bertahan dalam jangka panjang dengan menghambat fusi fagosom-lisosom serta memodulasi respons imun inang.
Mengapa rekativitas terjadi sangat cepat pada pasien penggunaan kortikosteroid jangka pendek pada pasien lupus (SLE) Akut
Efek imunosupresi dari steroid
Kortikosteroid bekerja dengan menghambat atau menekan produksi sitokin pro-inflamasi, khususnya interferon-gamma yang diproduksi oleh sel T penolong (helper T cells). Pada kondisi normal, interferon-gamma merupakan mediator yang sangat krusial untuk mengaktifkan makrofag. Makrofag ini bertugas mengurung dan mengisolasi kuman Mycobacterium tuberculosis di dalam granuloma agar infeksi tetap bersifat laten dan tidak menyebar. Penggunaan steroid merusak mekanisme pertahanan tersebut dengan mengurangi produksi sitokin serta menurunkan rekrutmen sel darah putih ke sel yang terinfeksi, sehingga kuman TB dapat lepas dan memicu reaktivasi.
Peran Komplemen pada SLE
Penurunan sistem imun, yaitu kondisi penurunan kadar komponen komplemen 3 (C3) dan 4 (C4) yang diakibatkan oleh kaskade autoimun dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang berperan penting dalam menghasilkan ligan untuk opsonisasi M. tuberculosis. Ketika kadar komplemen rendah, proses opsonisasi terganggu sehingga fagositosis kuman oleh makrofag menjadi berkurang. Kombinasi antara defisiensi imun akibat gangguan sistem komplemen SLE dan penurunan pertahanan tubuh akibat glukokortikoid menciptakan kondisi yang mempercepat reaktivasi infeksi laten.
Risiko Tinggi Penggunaan Steroid Jangka Pendek
Pemberian kortikosteroid terbukti meningkatkan risiko reaktivasi tuberkulosis secara signifikan. Studi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan resep steroid apa pun yang setara dengan ≥7,5mg prednison atau lebih tinggi dalam kurun waktu enam bulan terakhir memiliki odds ratio (OR) sebesar 7,0 (95% CI: 2,9–16,8) dapat meningkatkan risiko TB aktif dibandingkan dengan individu tanpa paparan steroid. Bahkan, hanya dengan satu resep steroid dalam jangka waktu pendek (kurang dari enam bulan), risiko seseorang terkena TB aktif dapat meningkat hingga 3,2 kali lipat.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kortikosteroid dalam jangka pendek pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) akut tetap berpotensi meningkatkan risiko reaktivasi tuberkulosis (TB) laten menjadi TB aktif. Hal ini berkaitan dengan efek imunosupresif kortikosteroid yang menekan produksi sitokin proinflamasi, terutama interferon-gamma (IFN-γ), sehingga mengurangi aktivitas makrofag dalam mempertahankan granuloma dan mengendalikan pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Selain itu, kondisi hipokomplementemia pada pasien SLE, yang ditandai dengan penurunan kadar C3 dan C4, dapat mengganggu proses opsonisasi dan fagositosis bakteri.
Kombinasi gangguan sistem imun akibat SLE dan efek imunosupresif kortikosteroid menyebabkan kemampuan tubuh dalam mengendalikan infeksi M. tuberculosis semakin menurun. Akibatnya, bakteri yang sebelumnya berada dalam kondisi dorman berpotensi kembali aktif dan berkembang menjadi TB aktif. Dengan demikian, penggunaan kortikosteroid, meskipun dalam jangka pendek, tetap memerlukan perhatian khusus, terutama pada pasien SLE yang memiliki risiko infeksi TB laten. Oleh karena itu, skrining TB sebelum memulai terapi imunosupresif menjadi langkah penting untuk mendeteksi infeksi laten sedini mungkin serta mencegah terjadinya reaktivasi dan komplikasi yang lebih serius.
REFERENSI
- Jalla A, Bishr O, Glover JR. Latent tuberculosis activation due to short-term glucocorticoid use in acute systemic lupus erythematosus. Cureus. 2026 May 4;18(5):e108226. doi:10.7759/cureus.108226
- Alsayed SSR, Gunosewoyo H. Tuberculosis: Pathogenesis, Current Treatment Regimens and New Drug Targets. Int J Mol Sci. 2023 Mar 8;24(6):5202. doi: 10.3390/ijms24065202. PMID: 36982277; PMCID: PMC10049048.





Tinggalkan Balasan