Bagi penyintas lupus (SLE), pertanyaan tentang berat badan sering terasa serba salah. Obat seperti steroid dapat menaikkan berat badan, sementara kelelahan dan nyeri sendi yang kerap dirasakan pasien lupus membuat olahraga sulit untuk dilakukan. Di sisi lain, berat badan berlebih itu buruk bagi kesehatan. Lalu, bagaimana hubungannya dengan kekambuhan lupus? Sebuah studi terbaru dari Jepang mencoba menjawabnya.

Apa yang diteliti?

Para peneliti memakai data LUNA, sebuah registri lupus nasional di Jepang yang mengumpulkan data pasien dari 24 rumah sakit. Mereka menganalisis 1.134 pasien dewasa dengan lupus yang indeks massa tubuhnya (IMT) minimal 18,5 (tidak termasuk yang berat badannya kurang).

Pasien dibagi menjadi dua kelompok:

  • Berat badan normal (IMT 18,5 sampai kurang dari 25): 909 pasien
  • IMT 25 atau lebih: 225 pasien. Di Jepang, kelompok ini disebut “obesitas”, padahal menurut standar WHO sebagian besar tergolong kelebihan berat badan.

Kemudian para peneliti melihat siapa yang mengalami kekambuhan dalam satu tahun, yang dinilai berdasarkan kenaikan dosis steroid dibandingkan dengan kunjungan terakhir akibat aktivitas lupusnya.

Apa temuannya?

Kekambuhan terjadi pada 13,5% kelompok dengan berat badan normal dan 8,0% pada kelompok dengan IMT lebih. Setelah memperhitungkan faktor lain (usia, jenis kelamin, lama sakit, dosis steroid, aktivitas penyakit, kerusakan organ, kadar gula darah, dan obat tertentu), kelompok IMT 25 atau lebih tetap memiliki kemungkinan kambuh sekitar separuh dibanding kelompok berat badan normal (OR; 0,52)

Pada pasien dengan IMT 25 hingga 30, kekambuhan hanya sekitar 6,5% dan pada pasien dengan IMT 30 atau lebih (57 orang), angkanya naik lagi menjadi sekitar 12,3%. Tetapi, karena hasil perbedaannya tidak bermakna secara statistik, angka ini belum bisa dianggap kesimpulan. Paling jauh, ini hanya petunjuk awal yang perlu diteliti lebih lanjut

Mengapa bisa begitu?

Studi ini tidak membuktikan penyebabnya. Para penulis hanya mengajukan beberapa dugaan, misalnya:

  • Hormon lemak seperti leptin diketahui menekan jalur interferon tipe I, yaitu jalur peradangan yang berperan penting pada kekambuhan lupus.
  • Perubahan metabolisme sel imun pada orang dengan IMT lebih tinggi mungkin meredam respons peradangan.
  • Bisa juga sebaliknya: lupus yang aktif dapat menurunkan nafsu makan dan berat badan, sehingga BMI rendah justru akibat penyakit, bukan penyebab kambuh.

Semua ini masih hipotesis dan belum diukur langsung di studi tersebut.

Hal yang perlu diingat

Ini adalah studi observasional. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan, bukan suatu sebab akibat bahwa berat badan tertentu menyebabkan lebih sedikit kekambuhan. Pesertanya orang Jepang. Belum tentu hasilnya sama persis pada populasi lain, termasuk Indonesia, yang tubuhnya, pola makannya, dan layanan kesehatannya berbeda. Pasien yang sangat kurus (BMI di bawah 18,5) tidak ikut dianalisis, jadi studi ini tidak bisa menjawab apa-apa tentang kelompok tersebut.

Jadi, apa artinya buat kamu?

Pesannya bukan “naikkan berat badan supaya tidak kambuh”. Para penulis sendiri menyimpulkan bahwa yang tampaknya baik adalah berat badan yang moderat, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi, serta menyarankan panduan berat badan yang menghindari diet ketat berlebihan. Beberapa hal praktis yang masuk akal:

  • Hindari diet ekstrem atau penurunan berat badan yang drastis tanpa pengawasan dokter.
  • Bila berat badanmu naik atau turun cukup jauh dalam waktu singkat, bicarakan dengan dokter. Itu bisa terkait obat, nafsu makan, atau aktivitas penyakit.
  • Pola makan seimbang dan aktivitas fisik sesuai kemampuan tetap bermanfaat untuk kesehatan jantung, tulang, dan energi.
  • Jangan menyalahkan diri sendiri soal berat badan. Banyak faktor memengaruhinya, termasuk obat yang memang harus kamu minum.

Referensi

Suzuki N, Yoshimi R, Mizuno H, Hidekawa C, Sakurai N, Yoshioka Y, et al. The relationship between obesity and disease relapse in systemic lupus erythematosus: a retrospective cohort study using the LUNA registry. Front Immunol. 2026;17:1781933. doi:10.3389/fimmu.2026.1781933

Tinggalkan Balasan

Trending