Lupus adalah penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru keliru menyerang organ sendiri. Ironisnya, di balik sistem imun yang “salah sasaran”, pasien lupus justru lebih mudah terserang infeksi. Infeksi menjadi salah satu penyebab utama kematian pada pasien lupus, dan sekitar 37% pasien mengalami setidaknya satu infeksi berat selama masa sakitnya.
Bentuk infeksi yang paling ditakuti adalah infeksi aliran darah atau Bloodstream Infection (BSI), yakni ketika kuman masuk dan beredar bersama darah. Kondisi ini dapat memicu lupus kambuh, memperpanjang masa rawat inap, menambah biaya pengobatan, dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada tahun-tahun awal penyakit. Masalahnya, gejala infeksi sering sulit dibedakan dari gejala lupus yang sedang aktif atau flare, sehingga infeksi bisa terlambat dikenali. Para peneliti dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, Tiongkok, ingin mencari tanda-tanda yang dapat membantu dokter mengenalinya lebih cepat. Hasilnya diterbitkan di jurnal Annals of Medicine tahun 2026.
Penelitian ini membandingkan 43 pasien lupus yang mengalami infeksi aliran darah dengan 172 pasien lupus yang tidak mengalaminya. Dari 43 pasien tersebut, ditemukan 17 jenis mikroorganisme berbeda, dan hampir semuanya bakteri (97,7%). Hanya satu pasien yang terinfeksi jamur. Bakteri dari kelompok Gram-positif paling banyak ditemukan (55,8%), dengan Staphylococcus aureus sebagai yang terbanyak (18,6%). Kelompok Gram-negatif berada di urutan berikutnya (41,9%), terutama Salmonella (16,3%) dan Escherichia coli (11,6%).
Ketika data kedua kelompok dibandingkan, pasien dengan infeksi aliran darah lebih sering mengalami demam (86% dibanding 60,5%), kelelahan, nyeri otot (14% dibanding 2,9%), sakit kepala, dan kejang. Mereka juga lebih banyak menggunakan obat kortikosteroid, Intravenous Immunoglobulin (IVIG), dan obat antimalaria. Hasil laboratoriumnya pun berbeda: jumlah sel darah putih dalam urine dan kadar prokalsitonin (penanda infeksi bakteri) lebih tinggi. Temuan pada urine ini membuat penulis menduga saluran kemih dapat menjadi pintu masuk kuman ke darah, karena E. coli memang penyebab utama infeksi saluran kemih. Menariknya, kadar autoantibodi dan komplemen, penanda aktivitas lupus yang lazim diperiksa, tidak berbeda antara kedua kelompok. Hal ini mengisyaratkan bahwa infeksi aliran darah tampaknya tidak terutama dipicu oleh tingginya aktivitas penyakit. Faktor lain seperti konsumsi obat penekan imun, rusaknya barrier pelindung tubuh di kulit dan selaput lendir, serta meningkatnya paparan terhadap kuman, diduga lebih berperan.
Penelitian tersebut mendapatkan tiga hal sebagai penanda risiko. Pertama, pasien yang demam memiliki peluang infeksi aliran darah sekitar empat kali lebih tinggi. Kedua, pasien dengan nyeri otot memiliki peluang sekitar lima setengah kali lebih tinggi. Pasien yang menggunakan kortikosteroid memiliki peluang sekitar dua setengah kali lebih tinggi. Kortikosteroid bekerja dengan menekan peradangan, tetapi pada saat yang sama melemahkan gerak dan fungsi sel darah putih sehingga tubuh kurang mampu melawan kuman. Nyeri otot memang juga bisa muncul saat lupus kambuh atau flare, namun penulis menekankan bahwa nyeri otot yang baru muncul atau memburuk, terutama bersama demam, perlu membuat dokter curiga adanya infeksi aliran darah dan mempertimbangkan kultur darah.
Intinya, pada pasien lupus yang sedang mendapat terapi kortikosteroid, demam dan nyeri otot sebaiknya tidak dianggap sepele. Keduanya dapat menjadi isyarat untuk memeriksa kemungkinan infeksi aliran darah lewat kultur darah agar penanganan dimulai lebih dini. Bagi pasien dan keluarga, segera hubungi dokter bila muncul demam, apalagi disertai nyeri otot yang baru atau makin berat, dan jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri tanpa petunjuk dokter. Bagi tenaga kesehatan, temuan ini mengingatkan bahwa gejala yang mirip kekambuhan lupus bisa saja berasal dari infeksi. Namun ingat, ini penelitian observasional yang menunjukkan keterkaitan, dan hasilnya perlu dikonfirmasi oleh studi yang lebih besar sebelum dijadikan aturan baku.
Referensi
Ye M, He Y, Yi S, Liu P, Zhao C, Chen Y, Li L. Clinical predictors for bloodstream infection in systemic lupus erythematosus. Annals of Medicine. 2026;58(1):2680341. doi: 10.1080/07853890.2026.2680341





Tinggalkan Balasan