Sindrom Antifosfolipid Primer atau Primary antiphospholipid syndrome (PAPS) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan terbentuknya gumpalan atau bekuan darah di pembuluh arteri maupun vena akibat adanya antibodi antifosfolipid yang menetap, tanpa disertai lupus (systemic lupus erythematosus/SLE) atau penyakit autoimun sistemik lainnya. Meskipun telah mendapatkan terapi antikoagulan jangka panjang, pasien PAPS masih memiliki risiko mengalami penggumpalan darah berulang. Hidroksiklorokuin (HCQ), obat yang biasa dipakai untuk mengatasi lupus, diketahui bisa membantu mencegah penggumpalan darah dan meredakan peradangan akibat sistem imun. Namun, manfaatnya secara spesifik pada pasien PAPS yang sudah pernah mengalami pembekuan darah masih belum jelas.

Sebuah tinjauan sistematis (systematic review) dan meta-analisis dilakukan untuk menilai apakah HCQ bisa dijadikan obat tambahan untuk mencegah penggumpalan darah berulang pada pasien PAPS yang tidak sedang hamil. Para peneliti mengumpulkan data dari berbagai jurnal ilmiah hingga Maret 2026, lalu membandingkan hasil pengobatan antara pasien yang mendapat HCQ + obat pengencer darah standar dengan pasien yang hanya diberi obat pengencer darah standar saja. Penelitian pada ibu hamil dengan APS, pasien APS yang juga mengidap lupus, serta penelitian yang meneliti pencegahan pembekuan darah pertama kali (bukan kekambuhan) tidak dimasukkan dalam analisis ini.

Sebanyak tiga penelitian yang memenuhi kriteria, dengan total 164 pasien PAPS yang pernah mengalami pembekuan darah. Sebanyak 82 pasien mendapat HCQ (kelompok yang diteliti), sementara 82 pasien lainnya tidak mendapat HCQ (kelompok pembanding/kontrol). Seluruh pasien ini diamati perkembangannya, dengan total masa pengamatan sekitar 380 tahun.

Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan HCQ secara konsisten berkaitan dengan penurunan angka kekambuhan trombosis atau pembekuan darah berulang dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapat obat standar saja. Di ketiga penelitian tersebut, penurunan risikonya bervariasi antara 30% hingga 100%, tergantung pada rancangan penelitian dan lama pengamatan masing-masing. Ketika data dari tiga penelitian tersebut digabungkan, secara keseluruhan pasien yang mendapat HCQ memiliki risiko pembekuan darah berulang sekitar 65–70% lebih rendah dibandingkan yang tidak mendapat HCQ. Artinya, HCQ berpotensi menurunkan risiko kekambuhan hingga sepertiganya. Selain itu, penggunaan HCQ tidak meningkatkan risiko perdarahan berat atau efek samping serius lainnya.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberian HCQ sebagai terapi tambahan pada pasien PAPS trombotik yang tidak sedang hamil berpotensi memberikan perlindungan terhadap kekambuhan trombosis ketika dikombinasikan dengan terapi antikoagulan standar. Namun, karena bukti yang tersedia masih berasal dari jumlah penelitian dan peserta yang terbatas, diperlukan uji klinis acak berskala lebih besar untuk memastikan manfaat dan keamanannya. Meski demikian, hasil ini menunjukkan bahwa HCQ dapat menjadi strategi terapi tambahan yang rasional bagi pasien PAPS dengan risiko trombosis tinggi setelah melalui pertimbangan dokter yang merawat.

Referensi

de Carvalho, J. F., Hautz, E., & Cervera, R. (2026). Hydroxychloroquine as an Adjunct Therapy for Secondary Thrombosis Prevention in Primary Antiphospholipid Syndrome: A Systematic Review and Meta-analysis. In Rheumatology and Therapy. Adis. https://doi.org/10.1007/s40744-026-00858-x

Tinggalkan komentar

Trending