Menyusui memberikan banyak manfaat bagi ibu dan bayi, termasuk pada ibu dengan systemic lupus erythematosus (SLE) atau lupus. Namun, kekhawatiran mengenai keamanan obat selama menyusui masih menjadi salah satu alasan yang memengaruhi keputusan pasien untuk memberikan ASI.

Sebuah studi potong lintang (cross-sectional survey) meneliti pengetahuan, niat, dan praktik menyusui pada perempuan dengan lupus. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana aktivitas penyakit serta persepsi terhadap keamanan obat, khususnya hidroksiklorokuin dan prednison, memengaruhi keputusan pasien untuk menyusui.

Sebanyak 85 perempuan dengan lupus berpartisipasi dalam survei ini, dengan rata-rata usia 35 tahun. Lebih dari separuh responden (56%) pernah mengalami kehamilan, 53% pernah menyusui, dan 32,9% memiliki anak setelah didiagnosis lupus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88% responden berencana menyusui pada kehamilan berikutnya. Namun, ketika lupus berada dalam kondisi aktif atau flare, 62% memilih memprioritaskan pengobatan dibandingkan menyusui (p < 0,001). Menariknya, pengetahuan mengenai menyusui pada lupus justru lebih baik di kalangan perempuan yang sudah memiliki pengalaman melahirkan setelah didiagnosis lupus. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung berperan penting dalam membentuk pemahaman pasien.

Peneliti juga menilai bagaimana persepsi pasien berubah setelah membaca brosur informasi obat (patient information leaflet). Hasilnya, 64% responden menganggap menyusui aman saat menggunakan prednison, tetapi hanya 26% yang berpendapat sama untuk hidroksiklorokuin. Padahal, seperti yang akan dijelaskan berikutnya, keduanya sama-sama tergolong aman menurut pedoman medis terkini.

Padahal, pedoman EULAR pada tahun 2016 menyatakan bahwa hidroksiklorokuin maupun prednison dapat digunakan selama pemberian ASI. British Society for Rheumatology (BSR) 2023 juga mengemukakan bahwa hidroksiklorokuin serta prednison/prednisolon kompatibel dengan menyusui, karena hanya diekskresikan ke dalam ASI dalam jumlah yang sangat kecil dan belum terbukti menimbulkan efek bermakna pada bayi. Sebaliknya, beberapa obat lain, seperti metotreksat, tidak direkomendasikan selama menyusui. Oleh karena itu, informasi pada brosur obat yang kurang sesuai dengan bukti ilmiah terkini berpotensi menimbulkan keraguan pada pasien.

Meskipun angka keberhasilan inisiasi menyusui pada perempuan yang melahirkan setelah didiagnosis lupus sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok pembanding (79,3% vs 93,2%), perbedaannya tidak bermakna secara statistik. Rata-rata lama menyusui juga relatif serupa, yaitu 14 bulan pada kelompok lupus dan 17 bulan pada kelompok pembanding.

Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa sebagian besar perempuan dengan lupus memiliki keinginan untuk menyusui, tetapi niat tersebut cenderung menurun ketika penyakit sedang aktif atau flare. Patient information leaflet (PIL) mengenai hidroksiklorokuin tampaknya juga menghambat pemberian ASI meskipun obat tersebut aman. Hal ini menegaskan pentingnya edukasi yang jelas mengenai keamanan obat selama menyusui serta konseling antara pasien dan dokter agar keputusan yang diambil tetap mempertimbangkan kesehatan ibu sekaligus tumbuh kembang bayi.

Referensi :

Izaguirre Germain, M. P., Villamizar Pérez, S., Josianne Paris, N., Serna Góngora, M. B., Brener, A., Claros, J., Gonzalez, E., Pérez Cepas, B. C., Laura Micelli, M., Sequeira, G., & Mario Kerzberg, E. (2026). Knowledge, intentions, and practices of breastfeeding among women with systemic lupus erythematosus: A cross-sectional survey. Reumatología Clínica (English Edition), 22(4), 502103. https://doi.org/10.1016/j.reumae.2026.502103

Tinggalkan komentar

Trending