Lupus sering disebut ‘si peniru ulung’. Bukan tanpa alasan. Gejalanya bisa menyerupai puluhan kondisi lain, dari rematik, anemia, penyakit tiroid, hingga gangguan psikiatri. Inilah yang membuat diagnosis lupus begitu menantang dan mengapa begitu banyak pasien yang harus melewati perjalanan panjang dari satu dokter ke dokter lain sebelum akhirnya mendapat jawaban yang benar.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Journal of Family Medicine and Primary Care pada 2024 mencatat bahwa rata-rata waktu dari gejala pertama hingga diagnosis SLE adalah 47 bulan (hampir empat tahun). Dalam rentang waktu itu, banyak pasien sudah mengalami kerusakan organ yang sebenarnya bisa dicegah.(1)
Mengapa lupus sulit dikenali?
Tidak ada satu gejala tunggal yang langsung mengarah ke lupus. Penyakit ini bisa muncul perlahan dengan satu atau dua gejala yang tampak tidak berhubungan. Lalu, gejala lain menyusul berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah itu. Selain itu, tidak semua pasien memiliki gejala yang sama.
Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2025 menyebut lupus sebagai ‘great imitator’ karena kemampuannya menyerupai berbagai kondisi klinis lain. Mulai dari artritis reumatoid, fibromialgia, vaskulitis, hingga penyakit infeksi. Diagnosis lupus bergantung pada kombinasi temuan klinis, serologis, dan laboratorium.(2)
Gejala yang paling sering disalahartikan
Kelelahan yang tidak kunjung hilang
Kelelahan adalah keluhan yang hampir universal pada lupus. Namun, kelelahan juga merupakan gejala anemia, gangguan tiroid, depresi, dan puluhan kondisi lain sehingga keluhan ini sering tidak memunculkan kecurigaan ke arah lupus. (3)
Nyeri sendi yang berpindah-pindah
Nyeri sendi pada lupus dapat memiliki karakteristik yang hampir sama dengan artritis reumatoid, asam urat, atau bahkan ‘pegal-pegal biasa’ sehingga pasien sering menerima terapi nyeri simtomatik tanpa penyelidikan lebih lanjut.(3)
Ruam wajah yang dikira jerawat atau rosacea
Ruam berbentuk kupu-kupu di pipi dan hidung (malar rash) adalah salah satu tanda khas lupus. Namun, tampilan malar rash yang kemerahan dan bisa memburuk setelah paparan matahari membuat temuan tersebut sering dianggap sebagai jerawat, rosacea, atau dermatitis seboroik. Pasien dapat menerima krim topikal berbulan-bulan tanpa pernah diperiksa kaitannya dengan autoimun, terutama lupus.(2)(3)
Demam berulang yang tidak jelas penyebabnya
Demam tanpa sumber infeksi jelas adalah temuan pada lupus yang cukup umum dan keadaan tersebut sering berujung pada serangkaian pemeriksaan infeksi yang hasilnya negatif. Tanpa kecurigaan ke arah autoimun, pasien dapat berulang kali didiagnosis infeksi virus tidak spesifik dan dipulangkan tanpa penyelidikan lebih lanjut.(3)
Rambut rontok
Kerontokan rambut pada lupus sering dianggap akibat stres, defisiensi zat besi, atau gangguan tiroid. Padahal, alopesia bisa menjadi salah satu tanda klinis penting yang mengarah ke lupus.(3)
Pembengkakan kaki atau wajah
Keterlibatan ginjal pada lupus, contohnya pada lupus nefritis, dapat ditandai dengan munculnya temuan proteinuria dan edema. Bahkan, hal tersebut terkadang menjadi temuan pertama sebelum gejala lain teridentifikasi. Temuan ini dapat memakan waktu yang signifikan sebelum penyebab autoimunnya ditelusuri.(3)
Gejala neuropsikiatri
Inilah yang mungkin paling mengejutkan: lupus bisa memengaruhi otak dan sistem saraf. Manifestasinya dapat bervariasi, mulai dari sakit kepala, gangguan kognitif (sering disebut sebagai lupus fog), kejang, hingga gangguan suasana hati. Gejala-gejala ini mudah sekali dianggap gangguan psikiatri primer dan pasien bisa saja menjalani terapi psikiatri bertahun-tahun tanpa mengetahui bahwa ia memiliki penyakit lupus.(1)(3)
Kapan harus mencurigai lupus?
Sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena lupus tidak memiliki satu tanda yang jelas atau patognomonik. Namun, beberapa kombinasi tanda dan gejala dapat meningkatkan kewaspadaan kita:
- Beberapa gejala berbeda yang muncul bersamaan atau bergantian, terutama pada perempuan muda
- Gejala yang memburuk setelah paparan sinar matahari
- Hasil pemeriksaan rutin yang abnormal (anemia, leukopenia, trombositopenia, protein dalam urin) tanpa penjelasan yang jelas
- Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
- Hasil ANA positif dari pemeriksaan sebelumnya
Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa gejala di atas secara bersamaan, terutama jika sudah diperiksakan ke berbagai dokter tanpa diagnosis yang memuaskan, konsultasi ke reumatologis adalah langkah berikutnya yang tepat.
Punya pertanyaan tentang gejala yang Anda alami? Tanyakan melalui fitur Tanya Reumatolog di website ini.
Referensi
- Mitchell JL. Understanding the impact of delayed diagnosis and misdiagnosis of systemic lupus erythematosus (SLE). J Fam Med Prim Care [Internet]. 2024;13(11):4819–23. Available from: https://journals.lww.com/jfmpc/fulltext/2024/13110/understanding_the_impact_of_delayed_diagnosis_and.10.aspx
- Roest KL, Hak A (Liesbeth) E, van Leeuwen EMM, de Bree GJ, Kwakernaak AJ. Mimickers of systemic lupus erythematosus: Case series and literature overview. J Clin Med. 2025;14(19):1–11.
- Sumariyono, Araminta AP, Yuliannisa Y. Systemic lupus erythematosus (SLE) / lupus eritematosus sistemik (LES). In: Hidayat R, Sumariyono, Wibowo RMSAK, Ariane A, Parlindungan F, Damanik J, Araminta AP, editors. Panduan praktik klinis reumatologi. 1st edition. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia; 2025. p. 321-34.





Tinggalkan komentar