Pertanyaan ini beredar luas terutama di media sosial dan grup komunitas pasien. Seseorang mengatakan bahwa ia sudah berhenti minum obat dan beralih ke ramuan tertentu lalu kondisi kesehatannya membaik. Ia pun merekomendasikan ramuan tertentu tersebut ke orang lain. Cerita seperti ini terdengar meyakinkan karena berasal dari pengalaman nyata seseorang. Namun, ada banyak hal yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan serupa.
Lupus tidak bisa sembuh total, oleh apapun
Ini bukan soal herbal melawan obat konvensional. Hingga saat ini, belum ada pengobatan apapun, baik farmakologis maupun herbal, yang terbukti menyembuhkan lupus secara permanen. SLE adalah penyakit autoimun kronis dengan perjalanan yang bersifat relaps-remisi: ada periode di mana gejala mereda dan ada periode di mana penyakit kembali aktif.(1)
Ketika seseorang merasa “sembuh” setelah mengonsumsi herbal, kemungkinan besar yang terjadi adalah penyakit sedang dalam fase remisi, yaitu periode tenang yang dapat berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Remisi bisa terjadi dengan atau tanpa intervensi apapun. Masalahnya, tanpa pemantauan dan pengobatan yang tepat, kerusakan organ bisa tetap berlangsung secara diam-diam di balik ketenangan gejala.
Apakah herbal sama sekali tidak berguna?
Tidak sesederhana itu. Ada beberapa suplemen yang menunjukkan hasil menjanjikan dalam studi awal. Tinjauan dari publikasi yang diterbitkan di jurnal Current Opinion in Rheumatology menyebutkan bahwa suplemen seperti vitamin D, asam lemak omega-3, N-asetil sistein, dan kurkumin menunjukkan potensi dalam membantu mengurangi aktivitas penyakit SLE. Tinjauan ini juga mencatat bahwa intervensi mind-body dapat membantu memperbaiki suasana hati dan kualitas hidup pasien.(2)
Namun, ada syarat penting yang sering luput dari percakapan sehari-hari, yaitu semua temuan ini masih berasal dari studi-studi kecil dan awal. Belum ada satupun yang diuji dalam skala besar cukup untuk dijadikan rekomendasi klinis resmi. Artinya, penggunaannya belum bisa menggantikan terapi yang sudah terbukti.
Yang lebih mengkhawatirkan: beberapa herbal bisa memperburuk lupus
Banyak orang berasumsi bahwa “alami” berarti aman. Ini tidak selalu benar, terutama bagi pasien autoimun. Sejumlah suplemen herbal yang populer dipasarkan sebagai “penguat imun” justru berisiko mengaktifkan sistem imun secara berlebihan.
Pada pasien lupus, sistem imun yang sudah terlalu aktif inilah yang menjadi sumber masalah. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan pada tahun 2025 mengidentifikasi 15 suplemen herbal dengan bukti imunostimulatori paling kuat, di antaranya adalah spirulina, echinacea, ashwagandha, klorofil (chlorella), astragalus, ginseng, ekstrak teh hijau, dan bawang putih dosis tinggi. Suplemen-suplemen ini dikaitkan dengan mekanisme peningkatan produksi sitokin dan aktivasi jalur imun yang sudah bermasalah pada pasien lupus.(3)
Temuan ini bukan sekadar spekulasi. Laporan kasus yang dipublikasikan di Archives of Dermatology tahun 2004 sudah mendokumentasikan pasien-pasien penyakit autoimun, termasuk lupus, yang mengalami onset penyakit atau flare setelah mengonsumsi suplemen imunostimulatori.(4) Studi yang lebih baru (2021) memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa spirulina, Aphanizomenon flos-aquae, chlorella, echinacea, dan alfalfa terbukti mengaktifkan sel imun melalui sitokin dan kemokin tertentu. Penggunaannya pun dikaitkan dengan perburukan kondisi pada pasien dengan penyakit autoimun.(5)
Risiko interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi
Pasien lupus umumnya mengonsumsi beberapa obat sekaligus, mulai dari hydroxychloroquine, kortikosteroid, hingga imunosupresan. Banyak senyawa herbal dapat berinteraksi dengan obat-obatan ini melalui jalur metabolisme di hati, khususnya enzim sitokrom P450.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di International Journal of Molecular Sciences menjabarkan bagaimana suplemen herbal yang menghambat atau menginduksi enzim CYP450 dapat mengubah kadar obat dalam darah secara signifikan. Hal ini berujung pada efek terapi yang tidak terduga atau toksisitas.(6) Laporan efek samping hepatotoksisitas akibat penggunaan suplemen herbal bersamaan dengan obat konvensional juga sudah terdokumentasi pada komunitas Asia di Singapura.(7)
Berhenti minum obat adalah keputusan yang tidak boleh diambil sendiri
Ini mungkin bagian yang paling penting dari seluruh artikel ini.
Salah satu risiko terbesar dari mempercayai klaim “sembuh dengan herbal” adalah pasien memutuskan berhenti minum obat konvensionalnya. Pada lupus, kerusakan organ, terutama di ginjal, tidak selalu disertai dengan gejala yang jelas. Pasien bisa merasa baik secara subjektif tetapi proses inflamasi dalam tubuhnya terus berlangsung. Penelitian yang datanya diambil dari sepuluh pusat medis di tujuh negara memperkuat penyataan tersebut. Pasien dengan aktivitas penyakit lupus yang rendah memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Capaian tersebut didapat dari keputusan klinis/dokter yang menentukan strategi pengobatan para pasiennya.(8)
Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?
Jika Anda tertarik menggunakan suplemen tertentu, ada satu langkah yang paling penting: diskusikan dengan reumatolog Anda sebelum memulai apapun.
Reumatolog dapat membantu menilai apakah suplemen yang ingin Anda gunakan aman untuk kondisi spesifik Anda, apakah ada interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi, dan apakah ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung penggunaannya. Beberapa suplemen mungkin aman sebagai pelengkap, tetapi bukan sebagai pengganti.
Yang tidak boleh dilakukan: berhenti minum obat yang diresepkan reumatolog atas dasar informasi dari media sosial, testimoni orang lain, atau klaim penjual produk tertentu tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Lupus adalah penyakit yang perjalanannya bisa sangat tenang selama berbulan-bulan, lalu tiba-tiba memburuk. Masa tenang itu sering disalahartikan sebagai kesembuhan. Tugas terapi bukan hanya menghilangkan gejala hari ini tetapi juga mencegah kerusakan organ yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Punya pertanyaan tentang suplemen atau herbal yang ingin Anda coba? Tanyakan langsung melalui fitur Tanya Reumatolog di website ini.
Referensi
1. Fanouriakis A, Kostopoulou M, Andersen J, Aringer M, Arnaud L, Bae SC, et al. EULAR recommendations for the management of systemic lupus erythematosus: 2023 update. Ann Rheum Dis [Internet]. 2023;83(1):15–29. Available from: http://dx.doi.org/10.1136/ard-2023-224762
2. Greco CM, Nakajima C, Manzi S. Updated review of complementary and alternative medicine treatments for systemic lupus erythematosus. Curr Rheumatol Rep. 2013;15(11):1–13.
3. Weiner JD, Hill A, Shen C, On A, Werth VP. Identifying immunostimulatory herbal supplements that may flare autoimmune skin diseases: a systematic scoping review. Lupus Sci Med. 2025;12(2):1–15.
4. Lee AN, Werth VP. Activation of autoimmunity following use of immunostimulatory herbal supplements. Arch Dermatol. 2004;140(6):723–7.
5. Chakka S, Concha JSS, Bax CE, Zeidi M, Werth VP. The affects of immunostimulatory herbal supplements on autoimmune skin diseases. J Am Acad Dermatol. 2021;84(4):1051-8.
6. Brewer CT, Chen T. Hepatotoxicity of herbal supplements mediated by modulation of cytochrome P450. Int J Mol Sci. 2017;18(11):1–28.
7. Teo DCH, Ng PSL, Tan SH, Lim AT, Toh DSL, Chan SY, et al. Drug-induced liver injury associated with Complementary and Alternative Medicine: A review of adverse event reports in an Asian community from 2009 to 2014. BMC Complement Altern Med [Internet]. 2016;16(1):1–11. Available from: http://dx.doi.org/10.1186/s12906-016-1168-z
8. Golder V, Kandane-Rathnayake R, Hoi AYB, Huq M, Louthrenoo W, An Y, et al. Association of the lupus low disease activity state (LLDAS) with health-related quality of life in a multinational prospective study. Arthritis Res Ther. 2017;19(1):1–11.





Tinggalkan komentar