Tidak ada diet khusus yang secara resmi direkomendasikan untuk pasien lupus. Namun, bukan berarti pola makan tidak penting. Semakin hari, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa apa yang kita makan bisa memengaruhi tingkat peradangan dalam tubuh. Keadaan ini menjadi sangat relevan bagi pasien dengan penyakit autoimun seperti lupus.

Diet Mediterania: yang paling banyak diteliti

Dari semua pola makan yang diteliti pada pasien SLE, diet Mediterania mendapat perhatian paling besar. Diet ini menekankan konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun dengan konsumsi daging merah dan makanan olahan yang minimal.

Sebuah tinjauan literatur dengan total 1.165 pasien SLE menemukan bahwa tiga dari lima studi melaporkan bahwa kepatuhan tinggi terhadap diet Mediterania berhubungan dengan skor aktivitas penyakit lupus (SLEDAI) yang lebih rendah dan lebih berkurang risikonya mengalami kerusakan organ.(1) Satu studi besar menggunakan data UK Biobank sebanyak lebih dari 200.000 peserta menyimpulkan bahwa kelompok dengan kepatuhan tinggi terhadap diet Mediterania memiliki risiko perkembangan SLE, yang secara signifikan, lebih rendah. Hal ini mungkin terjadi karena adanya peningkatan fungsi hati dan ginjal.(2)

Apa yang sebaiknya ada di piring?

Ikan dan asam lemak omega-3

Ikan berlemak seperti salmon, sarden, makarel, dan tuna mengandung asam lemak omega-3 yang memiliki efek antiinflamasi. Tinjauan terbaru dalam jurnal Food Science and Nutrition menjelaskan bagaimana omega-3 menghambat jalur NF-κB dan menekan produksi sitokin proinflamasi. Keduanya relevan pada patofisiologi SLE.(3)

Sayuran

Sayuran yang mengandung polifenol berguna sebagai antioksidan untuk membantu melawan stres oksidatif. Brokoli, bayam, kale, wortel, dan tomat adalah pilihan yang baik. Untuk pasien dengan keterlibatan ginjal yang perlu membatasi kalium, jenis dan jumlah sayuran tertentu perlu dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.(3)

Kacang-kacangan dan biji-bijian

Sumber serat, protein nabati, dan fitonutrien. Serat yang difermentasi di usus menghasilkan asam lemak rantai pendek/short-chain  fatty acids (SCFA) yang memiliki efek antiinflamasi sistemik dan berperan dalam menjaga kesehatan mikrobioma usus, yang kini semakin dipahami relevansinya pada autoimun.(3)

Minyak zaitun extra virgin

Mengandung phenol fraction (PF) yang berguna untuk menghentikan respon inflamasi sel tubuh. Minyak zaitun dapat digunakan untuk dressing salad.(3)

Yang sebaiknya dikurangi

Makanan ultra-proses

Makanan dalam kemasan, makanan cepat saji, serta camilan yang tinggi gula dan garam termasuk dalam makanan ultra-proses. Data menunjukkan bahwa pasien SLE cenderung mengonsumsi makanan ultra-proses lebih banyak dari yang direkomendasikan dan pola ini juga berkaitan dengan risiko kardiovaskular yang lebih tinggi.(3)

Makanan tinggi lemak jenuh

Daging merah berlemak, kulit ayam, dan produk susu berlemak tinggi termasuk dalam kategori ini. Lemak jenuh berkontribusi pada peradangan sistemik dan memperburuk profil lipid yang seharusnya sudah menjadi perhatian pasien lupus, mengingat risiko kardiovaskular mereka yang lebih tinggi dari populasi umum.(3)

Alfalfa sprout

Ini mungkin mengejutkan: kecambah alfalfa yang mengandung L-canavanine, senyawa yang mengaktifkan sistem imun dan dilaporkan dapat memperburuk kondisi pada pasien lupus. Konsumsi kecambah alfalfa bukan menjadi larangan absolut tetapi sebaiknya dihindari atau dikonsultasikan terlebih dahulu.(3)

Catatan khusus untuk pasien dengan keterlibatan ginjal

Pada pasien yang juga memiliki keadaan lupus nefritis, panduan dietnya menjadi lebih spesifik. Pembatasan protein, kalium, fosfor, dan natrium mungkin diperlukan tergantung fungsi ginjal saat ini. Strategi diet harus personal dan spesifik.

Apakah perlu suplemen?

Vitamin D adalah suplemen yang paling sering dibahas karena defisiensinya sangat sering ditemukan pada pasien lupus. Terkadang akibat menghindari sinar matahari. Kadar vitamin D yang rendah dikaitkan dengan aktivitas penyakit yang lebih tinggi. Namun, suplementasi harus didasarkan pada pemeriksaan kadar vitamin di darah dan rekomendasi dokter, bukan inisiatif sendiri.

Untuk suplemen lain, termasuk berbagai herbal, prinsipnya sama seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya: diskusikan dulu dengan reumatologis sebelum mengonsumsinya.

Tidak ada diet ajaib yang bisa menggantikan terapi medis lupus. Namun, pola makan yang baik adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup yang lebih baik, yang melengkapi, bukan menggantikan, perawatan dari dokter.

Ada pertanyaan tentang diet dan lupus? Kirimkan melalui fitur Tanya Reumatolog di website ini.

Referensi

1.       Manuaba IARW. The benefits of mediterranean diet in systemic lupus erythematosus. Babali Nurs Res. 2024;5(4):717–30.

2.        Song ZC, Hu JJ, Xia XY, Liu ST, Zhang J, Cao HF, Ye DQ, Zhao W. Potential protective role of high mediterranean diet adherence for systemic lupus erythematosus: mediation by liver and kidney function biomarkers in the UK Biobank cohort. Rheumatology. 2025;64:5767-75.

3.       Zhang X, Fan G. The anti-lupus plate: Mapping nutritional interventions to inflammatory pathways in systemic lupus erythematosus. Food Sci Nutr. 2025;13(9):1–16.

Tinggalkan komentar

Trending