Infeksi masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE). Selain penyakitnya sendiri yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan lupus juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap berbagai infeksi.

Sebuah penelitian berskala besar di Jepang menyelidiki angka kejadian infeksi serius, herpes zoster (HZ), dan reaktivasi virus hepatitis B (HBV) pada pasien lupus dalam praktik klinis sehari-hari. Studi kohort retrospektif non-intervensional ini menggunakan data klaim asuransi kesehatan di Jepang dari 1 April 2017 hingga 31 Maret 2021 untuk mengevaluasi kejadian infeksi yang memerlukan rawat inap pada pasien yang menjalani terapi glukokortikoid (steroid), obat imunosupresan, maupun terapi biologis.

Studi yang melibatkan 10.865 pasien SLE ini (perempuan: 83,1%, usia median: 53,0 tahun), termasuk mereka yang sebelumnya pernah mengalami setiap komplikasi, menemukan bahwa infeksi serius yang memerlukan rawat inap terjadi sekitar 4,8 kali per 100 pasien-tahun (95% CI 4,53 hingga 5,08). Sementara itu, kejadian herpes zoster dan reaktivasi virus hepatitis B masing-masing tercatat sebesar 0,52 (0,44 hingga 0,61) dan 0,37 (0,30 hingga 0,45) kasus per 100 pasien-tahun.

Peneliti juga menemukan bahwa riwayat infeksi sebelumnya berkaitan dengan meningkatnya risiko mengalami infeksi kembali. Pada pasien yang tidak memiliki riwayat komplikasi sebelumnya, angka kejadian infeksi serius tercatat sebesar 3,67 (95% CI 3,44–3,92) kasus per 100 pasien-tahun. Sementara itu, angka kejadian herpes zoster dan reaktivasi virus hepatitis B masing-masing sebesar 0,48 (95% CI 0,40–0,58) dan 0,25 (95% CI 0,20–0,32) kasus per 100 pasien-tahun.

Sebaliknya, pasien dengan riwayat komplikasi sebelumnya menunjukkan angka kejadian yang jauh lebih tinggi. Pada kelompok yang pernah mengalami infeksi serius, angka kejadian infeksi serius kembali mencapai 37,93 kasus per 100 pasien-tahun. Sementara itu, pasien dengan riwayat herpes zoster dan reaktivasi hepatitis B memiliki angka kejadian berulang masing-masing sebesar 4,19 dan 72,01 kasus per 100 pasien-tahun. Selain itu, pasien dengan riwayat infeksi serius juga menunjukkan angka kejadian herpes zoster dan reaktivasi hepatitis B yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 1,51 dan 1,75 kasus per 100 pasien-tahun.

Salah satu temuan paling menonjol adalah tingginya angka infeksi pada pasien yang menjalani terapi pulse glukokortikoid, yaitu pemberian steroid dosis tinggi dalam waktu singkat yang umumnya digunakan untuk mengendalikan lupus yang sedang sangat aktif. Pada kelompok ini, angka kejadian infeksi serius mencapai 64,23 kasus per 100 pasien-tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan angka pada keseluruhan populasi penelitian.

Hal ini dapat dijelaskan secara biologis karena obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh memang diperlukan untuk mengendalikan aktivitas lupus. Namun, penurunan aktivitas sistem imun tersebut juga dapat mengurangi kemampuan tubuh melawan bakteri, virus, maupun jamur, termasuk memungkinkan virus yang sebelumnya berada dalam kondisi tidak aktif, seperti virus herpes zoster dan hepatitis B, kembali aktif.

Temuan ini sejalan dengan rekomendasi internasional yang menganjurkan penggunaan glukokortikoid pada dosis serendah mungkin setelah aktivitas penyakit berhasil dikendalikan. Pedoman terbaru dari European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) merekomendasikan agar dosis glukokortikoid diturunkan hingga ≤5 mg per hari, selain itu American College of Rheumatology (ACR) juga merekomendasikan untuk menurunkan dosis glukokortikoid hingga ≤5 mg per hari dalam enam bulan sejak pengobatan dimulai apabila aktivitas penyakit telah terkendali.

Refrensi

Kuwana, M., Yabe-Wada, T., Hirai, T., Kato, Y., & Yamaguchi, Y. (2026). Incidence of serious infections, herpes zoster and hepatitis B virus reactivation among patients with SLE: a cohort study using a health claims database in Japan. Lupus Science and Medicine, 13(1). https://doi.org/10.1136/lupus-2025-001879

Fanouriakis, A., Kostopoulou, M., Andersen, J., Aringer, M., Arnaud, L., Bae, S. C., Boletis, J., Bruce, I. N., Cervera, R., Doria, A., Dörner, T., Furie, R. A., Gladman, D. D., Houssiau, F. A., Inês, L. S., Jayne, D., Kouloumas, M., Kovács, L., Mok, C. C., … Boumpas, D. T. (2023). EULAR recommendations for the management of systemic lupus erythematosus: 2023 update. Annals of the Rheumatic Diseases, 83(1), 15–29. https://doi.org/10.1136/ard-2023-224762

Sammaritano, L. R., Askanase, A., Bermas, B. L., Dall’Era, M., Duarte-García, A., Hiraki, L. T., Son, M. B. F., Werth, V. P., Aranow, C., Barnado, A., Broder, A., Brunner, H. I., Chong, B. F., Chowdhary, V. R., Hersh, A. O., Izmirly, P. M., Jules, M., Kalunian, K., Kamen, D., … Mustafa, R. A. (2025). 2025 American College of Rheumatology (ACR) Guideline for the Treatment of Systemic Lupus Erythematosus. Arthritis Care and Research. https://doi.org/10.1002/acr.25690

Tinggalkan komentar

Trending