Studi kohort multisenter terhadap 1.599 pasien dengan systemic lupus erythematosus (SLE) di Malaysia menunjukkan adanya perbedaan dalam pencapaian target terapi antar kelompok etnis. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlambatan mencapai remisi dalam satu tahun pertama setelah diagnosis berkaitan dengan peningkatan risiko kerusakan organ.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE), atau lupus, dikenal sebagai penyakit yang sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lain, termasuk dipengaruhi oleh faktor etnis dan geografis. Selama ini, remisi (redanya penyakit sepenuhnya) menjadi target ideal pengobatan, dengan status aktivitas penyakit rendah (low disease activity state/LDAS) sebagai target alternatif yang masih bisa diterima. Namun pertanyaannya, seberapa penting kecepatan mencapai target ini di awal perjalanan penyakit?

Sebuah studi kohort retrospektif multi-senter yang melibatkan 1.599 pasien SLE dari 22 pusat reumatologi di Malaysia menunjukkan bahwa keterlambatan mencapai remisi atau LDAS pada tahun pertama setelah diagnosis berhubungan dengan peningkatan risiko kerusakan organ. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan mencapai target terapi dalam 12 bulan pertama serta hubungannya dengan kerusakan organ. Mayoritas peserta merupakan perempuan (92,5%), dengan komposisi etnis Melayu (68,7%), Tionghoa (17,4%), Pribumi (10,8%), dan India (3,0%).

Dalam penelitian ini, target terapi didefinisikan sebagai tercapainya remisi dini atau low disease activity state (LDAS), yaitu kondisi ketika aktivitas penyakit telah terkendali dengan dosis prednisolon oral yang rendah (≤5 mg/hari untuk remisi dan ≤7,5 mg/hari untuk LDAS) dalam satu tahun pertama sejak diagnosis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45,7% pasien berhasil mencapai target terapi lebih awal, sedangkan 54,3% lainnya baru mencapainya setelah lebih dari satu tahun. Analisis lebih lanjut menemukan bahwa pasien etnis Melayu dan Tionghoa memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mencapai remisi dini dibandingkan kelompok etnis Pribumi. Selain itu, kadar komplemen C4 yang rendah, keterlibatan ginjal maupun kelainan hematologi saat pertama kali didiagnosis, serta durasi penyakit yang lebih lama juga berkaitan dengan peluang yang lebih kecil untuk mencapai remisi dini.

Kerusakan Organ: Siapa yang Paling Berisiko?

Secara keseluruhan, 16,9% pasien dalam penelitian ini mengalami kerusakan organ permanen, yang diukur menggunakan instrumen standar SLICC/ACR Damage Index. Analisis regresi logistik mengidentifikasi tiga faktor independen yang berkaitan dengan risiko kerusakan organ:

  • Etnis India, dengan risiko kerusakan organ 5,75 kali lebih tinggi (OR 5,75; 95% CI 1,39–23,81; p = 0,02) dibandingkan kelompok etnis lain.
  • Keterlambatan mencapai remisi, dengan risiko hampir 3 kali lebih tinggi (OR 2,97; 95% CI 1,51–5,83).
  • Tidak mendapat terapi hidroksiklorokuin (HCQ) sejak awal, dengan risiko 4,13 kali lebih tinggi (OR 4,13; 95% CI 1,21–14,07; p = 0,020).

Dari tiga faktor ini, dua di antaranya — keterlambatan remisi dan ketiadaan HCQ sejak awal — merupakan faktor yang dapat diintervensi melalui strategi pengobatan yang lebih agresif dan konsisten di awal diagnosis.

Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok etnis di Malaysia dalam pencapaian target pengobatan sejak dini maupun akumulasi kerusakan organ pada pasien lupus. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa keterlambatan mencapai target terapi berkaitan dengan meningkatnya risiko kerusakan organ, sehingga menegaskan pentingnya menerapkan strategi treat-to-target sedini mungkin dalam penatalaksanaan lupus.

Tinggalkan komentar

Trending