Artritis atau radang sendi merupakan salah satu manifestasi yang sering ditemukan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus. Selain menyebabkan nyeri dan gangguan aktivitas sehari-hari, artritis yang menetap diduga berperan dalam terjadinya kerusakan sendi. Sebuah studi kohort prospektif multinasional yang dilakukan oleh Asia-Pacific Lupus Collaboration (APLC) meneliti prevalensi artritis, faktor-faktor yang berkaitan dengan kerusakan sendi, serta dampaknya terhadap kualitas hidup pasien lupus.

Penelitian ini menganalisis data 4.106 pasien lupus yang dikumpulkan dari tahun 2013 hingga 2020, dengan median masa pemantauan 2,5 tahun. Artritis persisten didefinisikan sebagai peradangan sendi yang ditemukan pada dua kali kunjungan berturut-turut atau lebih, sedangkan kerusakan sendi dinilai berdasarkan adanya deformitas atau erosi sendi menggunakan Systemic Lupus International Collaborating Clinics/American College of Rheumatology Damage Index (SDI). Kualitas hidup pasien diukur menggunakan Short Form-36 (SF-36).

Selama masa tindak lanjut, 803 dari 4.106 pasien (19,6%) mengalami artritis setidaknya satu kali, sedangkan 18 dari 3.383 pasien (0,53%) mengalami kerusakan sendi. Pasien yang mengalami artritis lebih sering berjenis kelamin perempuan, beretnis Kaukasia, merupakan perokok aktif saat awal penelitian, dan memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Kelompok ini juga menunjukkan aktivitas penyakit yang lebih tinggi, serta kualitas hidup fisik dan mental yang lebih buruk, dibandingkan pasien tanpa artritis.

Analisis Kaplan–Meier menunjukkan bahwa pasien yang mengalami artritis memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kerusakan sendi. Analisis lebih lanjut menemukan bahwa artritis persisten dan lama masa pemantauan merupakan faktor risiko terjadinya kerusakan sendi, sedangkan pasien yang berasal dari negara berpenghasilan tinggi memiliki risiko kerusakan sendi yang lebih rendah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasien yang telah mengalami kerusakan sendi memiliki kualitas hidup fisik yang lebih buruk.

Peneliti mencatat bahwa prevalensi artritis pada kohort Asia-Pasifik ini lebih rendah dibandingkan berbagai penelitian sebelumnya yang sebagian besar dilakukan pada populasi Kaukasia, Hispanik, dan Afrika-Amerika, yang melaporkan prevalensi artritis lupus berkisar antara 35% hingga 90%. Perbedaan ini diduga mencerminkan variasi karakteristik penyakit antaretnis. Penelitian sebelumnya di kawasan Asia-Pasifik juga melaporkan prevalensi artritis sekitar 40–70%, meskipun menggunakan definisi artritis yang berbeda. Dalam penelitian ini, prevalensi artritis pada pasien Kaukasia lebih tinggi dibandingkan pasien Asia (30% vs 18%), namun angka tersebut tetap lebih rendah dibandingkan yang dilaporkan pada kohort Kaukasia lainnya. Peneliti menduga bahwa tingginya prevalensi artritis pada negara berpenghasilan tinggi kemungkinan berkaitan dengan proporsi pasien Kaukasia yang lebih besar di negara-negara tersebut.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa meskipun kejadian artritis pada kohort APLC relatif lebih rendah dibandingkan beberapa kohort lupus lainnya, artritis tetap berkaitan dengan kebiasaan merokok, aktivitas penyakit yang lebih tinggi, penurunan kualitas hidup fisik dan mental, serta peningkatan kerusakan organ pada berbagai sistem. Yang terpenting, artritis persisten merupakan prediktor kuat terjadinya kerusakan sendi, sehingga pemantauan dan pengendalian artritis sejak dini menjadi bagian penting dalam penatalaksanaan pasien lupus.

Referensi

Zolio, L., Hao, Y., Kandane-Rathnayake, R., Louthrenoo, W., Chen, Y. H., Cho, J., Lateef, A., Hamijoyo, L., Luo, S. F., Jan Wu, Y. J., Navarra, S., Zamora, L., Li, Z., Sockalingam, S., Katsumata, Y., Harigai, M., Zhang, Z., Chan, M., Kikuchi, J., … Nikpour, M. (2026). Predictive correlates of arthritis and joint damage in systemic lupus erythematosus: a multinational prospective cohort study. Rheumatology, 65(6). https://doi.org/10.1093/rheumatology/keag152

Tinggalkan komentar

Trending