Sebuah studi terbaru yang dipublikasi pada jurnal Arthritis & Rheumatology, mengungkapkan bahwa pemberian anifrolumab melalui injeksi subkutan menunjukkan tingkat kemanjuran yang tidak berbeda secara bermakna dibandingkan dengan pemberian secara intravena. Temuan ini dilakukan oleh Manzi, dkk. (2025) dinilai mampu mengubah pendekatan terapi bagi pasien lupus dengan derajat keparahan sedang hingga berat, mengingat potensi perawatan mandiri di lingkungan rumah tanpa keharusan datang ke fasilitas kesehatan secara berkala.
Informasi Penelitian
Anifrolumab merupakan antibodi monoklonal yang bekerja melalui mekanisme penghambatan reseptor interferon tipe I, yang turut berperan dalam proses inflamasi lupus. Selama ini, sediaan anifrolumab hanya tersedia dalam bentuk intravena yang penanganannya wajib dilakukan di sarana pelayanan kesehatan. Terbatasnya akses menuju pusat pelayanan kesehatan dengan obat yang tersedia, khususnya bagi populasi pasien yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan geografis, kerap menjadi faktor penghambat keberlanjutan terapi. Studi yang dilakukan oleh Manzi dkk. ini disusun dengan tujuan untuk mengevaluasi apakah formulasi subkutan yang dapat diadministrasikan secara mandiri oleh pasien sanggup memberikan manfaat terapeutik yang setara serta memiliki profil risiko yang terkendali.
Penelitian ini dilaksanakan di 140 lokasi yang tersebar di 15 negara dengan menggunakan desain randomized controlled trial. Total sebanyak 378 pasien lupus secara acak dikelompokkan pada kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menerima anifrolumab subkutan dengan dosis tetap 120 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol (plasebo), terapi setiap minggu dalam jangka waktu 52 minggu. Parameter yang diukur mencakup penurunan skor aktivitas penyakit BILAG-based Composite Lupus Assessment [BICLA], kemampuan penurunan dosis kortikosteroid oral, serta kejaidan efek samping. Sebuah studi lanjutan dengan desain open label masih terus berlangsung guna menilai aspek keamanan jangka panjang dari penggunaan anifrolumab subkutan.
Temuan Klinis:
- Efektivitas yang setara antara anifrolumab versi subkutan dan intravena
Kelompok pasien yang mendapatkan anifrolumab subkutan menunjukkan perbaikan yang bermakna secara statistik maupun klinis berdasarkan indeks aktivitas penyakit lupus jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.
- Pengurangan ketergantungan kortikosteroid
Terdapat penurunan dosis awal kortikosteroid oral sebesar ≥10 mg/hari menjadi ≤7,5 mg/hari pada minggu ke-52 secara signifikan lebih tinggi di kelompok anifrolumab subkutan dibandingkan dengan control.
- Efek samping minimal
Tingkat kejadian efek samping serius tercatat rendah. Tidak ditemukan adanya infeksi oportunistik pada kelompok yang menerima anifrolumab subkutan.
Apabila dikaitkan dengan kondisi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang cukup tinggi. Terapi subkutan mingguan berpotensi untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Para peneliti mengingatkan bahwa meskipun hasil yang diperoleh cukup menjanjikan, pasien tetap memerlukan proses skrining awal serta pemantauan secara berkala oleh dokter spesialis Reumatologi.
Referensi
- Manzi S, Bruce IN, Morand EF, Furie R, Tanaka Y, Kalunian KC, Askanase A, Puzio P, Khan E, Wissmar J, Song M. Efficacy and Safety of Subcutaneous Anifrolumab in Systemic Lupus Erythematosus: A Randomized, Phase 3 Study. Arthritis & Rheumatology. 2025.
Bruce IN, Nami A, Schwetje E, Pierson ME, Rouse T, Chia YL, Kuruvilla D, Abreu G, Tummala R, Lindholm C. Pharmacokinetics, pharmacodynamics, and safety of subcutaneous anifrolumab in patients with systemic lupus erythematosus, active skin disease, and high type I interferon gene signature: a multicentre, randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 2 study. The Lancet Rheumatology. 2021 Feb 1;3(2):e101-10.





Tinggalkan komentar