Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pasien lupus adalah soal olahraga. Boleh tidak? Aman tidak? Banyak yang khawatir bahwa bergerak terlalu banyak justru akan memperburuk kondisi. Kekhawatiran ini sangat wajar, tapi bukti ilmiah yang ada justru menunjukkan sebaliknya.

Pasien lupus cenderung kurang bergerak, dan ini masalah serius

Penelitian menunjukkan bahwa pasien SLE rata-rata jauh lebih tidak aktif dibanding populasi umum. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 40 studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pasien SLE menemukan bahwa hanya 11% hingga 29,8% pasien yang memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimum dari WHO.(1)

Ini bukan sekadar soal kebugaran. Pasien SLE sudah punya risiko kardiovaskular yang lebih tinggi dari orang sehat seusianya. Ketidakaktifan fisik memperparah risiko itu secara independen, terlepas dari aktivitas penyakitnya sendiri. Sebuah studi cross-sectional menggunakan akselerometri pada pasien SLE menemukan bahwa mengganti waktu sedentari dengan aktivitas fisik intensitas sedang-tinggi berhubungan dengan profil risiko kardiovaskular yang lebih baik.(2)

Apakah olahraga aman untuk pasien lupus?

Pertanyaan ini sudah dijawab oleh cukup banyak penelitian. Tinjauan sistematis dengan meta-analisis yang diterbitkan pada 2017 menyimpulkan bahwa program latihan terapeutik aman untuk pasien SLE dan tidak memperburuk aktivitas penyakit. Kelelahan, depresi, dan kebugaran fisik justru membaik setelah intervensi berbasis olahraga.(3)

Temuan serupa muncul dari tinjauan sistematis terhadap 12 uji klinis acak yang melibatkan 619 pasien SLE. Intervensi olahraga yang beragam, mulai dari aerobik, latihan ketahanan, program kombinasi, hingga latihan berbasis rumah dengan durasi 6 minggu hingga 12 bulan, tidak satu pun menunjukkan peningkatan aktivitas penyakit. Sebaliknya, kapasitas aerobik, kualitas hidup, kelelahan, nyeri, dan kualitas tidur semuanya membaik.(4)

Satu catatan penting: hampir semua studi ini dilakukan pada pasien dengan aktivitas penyakit yang stabil atau rendah. Olahraga tidak disarankan saat lupus sedang dalam kondisi flare aktif.

Jenis olahraga apa yang disarankan?

Latihan aerobik

Jalan kaki, berenang, bersepeda, atau senam ringan adalah pilihan yang paling banyak diteliti dan terbukti bermanfaat. Meta-analisis menyimpulkan bahwa program aerobik 3 kali seminggu dengan intensitas sedang selama minimal 20 menit, jika dilakukan selama 12 minggu, dapat mengurangi kelelahan dan meningkatkan vitalitas pada pasien SLE.(5)

Latihan ketahanan (resistance training)

Latihan dengan beban ringan hingga sedang juga aman dan bermanfaat. Tinjauan sistematis 2022 menemukan bahwa program latihan ketahanan memperbaiki kekuatan otot dan fungsi fisik pada pasien SLE, tanpa menimbulkan efek samping serius.(1)

Renang dan olahraga air

Pilihan yang sangat baik karena tidak membebani sendi. Selain itu, suhu air yang sejuk membantu mengurangi rasa panas dan nyeri sendi. Namun perlu diperhatikan kandungan klorin pada kolam renang, yang pada sebagian pasien bisa mengiritasi kulit.

Yoga dan peregangan

Membantu fleksibilitas dan relaksasi. Cocok sebagai pelengkap program olahraga utama, terutama bagi pasien yang mengalami nyeri sendi atau fibromialgia berdampingan.

Yang perlu diperhatikan saat berolahraga

Paparan sinar matahari

Ini adalah pertimbangan terpenting bagi pasien lupus yang berolahraga di luar ruangan. Antara 40% hingga 70% pasien lupus mengalami fotosensitivitas, yaitu reaksi berlebihan terhadap sinar UV yang bisa memicu ruam, kelelahan, nyeri sendi, bahkan flare sistemik.(6) Reaksi ini tidak selalu muncul langsung saat paparan, tetapi bisa tertunda hingga beberapa hari setelahnya.

Jika ingin berolahraga di luar ruangan, beberapa langkah perlindungan ini penting:

  • Pilih waktu pagi sebelum pukul 10.00 atau sore setelah pukul 16.00 saat indeks UV lebih rendah
  • Gunakan tabir surya broad-spectrum SPF minimal 50, dioleskan 30 menit sebelum keluar dan diulang setiap 2 jam
  • Kenakan pakaian lengan panjang berbahan ringan dengan rating UPF jika memungkinkan
  • Pakai topi lebar dan kacamata hitam dengan perlindungan UV 100%
  • Pertimbangkan olahraga di dalam ruangan seperti gym, kolam renang tertutup, atau latihan di rumah

Kondisi saat flare

Saat lupus sedang aktif, beristirahatlah. Memaksakan olahraga di tengah flare tidak hanya tidak nyaman, tetapi juga tidak ada bukti manfaatnya dan berpotensi memperberat kondisi. Tunggu hingga kondisi stabil sebelum kembali berlatih.

Mulai perlahan

Bagi yang lama tidak aktif, mulailah dengan intensitas rendah dan durasi singkat. Kelelahan setelah olahraga yang berlebihan pada pasien lupus (post-exertional malaise) bisa bertahan lebih lama dari orang sehat. Kenaikan intensitas dan durasi dilakukan bertahap.

Dengarkan tubuh

Rasa lelah ringan setelah olahraga adalah wajar. Tapi jika muncul nyeri sendi yang memburuk, ruam baru, kelelahan ekstrem yang tidak pulih dalam 24 jam, atau gejala lain yang tidak biasa, itu sinyal untuk berhenti dan konsultasikan dengan dokter.

Olahraga yang sebaiknya dihindari

Tidak ada jenis olahraga yang sepenuhnya terlarang untuk semua pasien lupus. Tapi beberapa kondisi dan jenis olahraga memerlukan pertimbangan ekstra:

  • Olahraga intensitas sangat tinggi atau kompetitif saat kondisi penyakit belum stabil
  • Olahraga di bawah terik matahari langsung, terutama antara pukul 10.00-16.00
  • Olahraga kontak atau benturan tinggi jika ada keterlibatan sendi yang aktif
  • Aktivitas berat jika sedang dalam perjalanan flare, meski gejalanya tampak ringan

Intinya: olahraga bukan sesuatu yang perlu ditakuti oleh pasien lupus. Justru sebaliknya, bergerak secara teratur adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas hidup jangka panjang. Yang perlu disesuaikan adalah cara dan waktunya, bukan keputusan untuk olahraga atau tidak.

Diskusikan rencana olahraga Anda dengan reumatolog sebelum memulai, terutama jika ada keterlibatan organ seperti ginjal atau jantung yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan batas intensitas yang aman untuk kondisi Anda.

Referensi

  1. Debbi EM, Agar G, Fichman G, et al. Benefits and risks of physical activity in patients with systemic lupus erythematosus: a systematic review of the literature. Semin Arthritis Rheum. 2022;57:152089. doi:10.1016/j.semarthrit.2022.152089 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36436314/
  2. Legge A, Blanchard C, Hanly JG. Physical activity, sedentary behaviour and their associations with cardiovascular risk in systemic lupus erythematosus. Rheumatology (Oxford). 2020;59(5):1128-37. doi:10.1093/rheumatology/kez469 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31691832/
  3. O’Dwyer T, Durcan L, Wilson F. Exercise and physical activity in systemic lupus erythematosus: a systematic review with meta-analyses. Semin Arthritis Rheum. 2017;47(2):204-15. doi:10.1016/j.semarthrit.2017.04.003 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28477898/
  4. 4. Zouganeli V, Dimopoulos S, Briasoulis A, Karkamanis A, Panagiotopoulos P, Karatzanos E, Boumpas DT, Vasileiadis I, Nanas S, Kourek C. The effects of exercise training on functional aerobic capacity and quality of life in patients with systemic lupus erythematosus: a systematic review of randomized controlled trials. J Clin Med. 2025;14(19):7031.doi:10.3390/jcm14197031 https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12525207/
  5. Yuen HK, Holthaus K, Kamen DL, Sword DO, Breland HL. The effectiveness of exercise in adults with systemic lupus erythematosus: a systematic review and meta-analysis to guide evidence-based practice. Rehabil Nurs. 2017;42(6):327-36. doi:10.1002/rnj.313 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28432856/
  6. Sontheimer RD, Costner MI. Photosensitivity in systemic lupus erythematosus: new concepts and a screening tool for assessment. J Am Acad Dermatol. 2023;88(4):943-56. doi:10.1016/j.jaad.2022.10.056 https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10059080/

Tinggalkan komentar

Trending